Optimisme BI Picu Penguatan Rupiah Rp14.610 Per Dolar AS

Ilustrasi Rupiah dan Dolar. Foto: Antara
Ilustrasi Rupiah. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini ditutup menguat 105 poin di level Rp14.610 per dolar AS. Penguatan ini dipengaruhi oleh optimisme Bank Indonesia akan kembali menguat ke nilai fundamentalnya di kisaran Rp13.600-13.800 per dolar AS.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, Bank Indonesia (BI)  dalam paparan Perkembangan Ekonomi Terkini kemarin mengatakan sangat optimis nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue, dan ke depannya akan kembali menguat ke nilai fundamentalnya. “Rupiah bisa kembali ke level sebelum pandemi virus corona (Covid-19) terjadi di kisaran Rp13.600-14.000 per dolar AS,” ungkap dia, Jumat (29/5).

Sedangkan fundamental akan diukur dari inflasi yang rendah, current account deficit (CAD) yang lebih rendah, aliran modal asing yang masuk ke SBN (Surat Berharga Negara) akan terus meningkat. Sehingga memperkuat dan memperkokoh mata uang garuda, BI tidak perlu lagi menurunkan suku bunga acuan dalam pertemuan bulan juni mendatang.

Meskipun, pasar global terus bergejolak namun Bank Indonesia mengatakan bahwa fundamental ekonomi masih kuat dan stabil sehingga arus modal asing yang di perdagangkan sesi pagi kembali keluar pasar. “Pada saat mendekati penutupan pasar Arus modal asing kembali masuk dan kembali membanjiri pasar valas dan obligasi dalam negeri,” kata Ibrahim.

Sedangkan faktor eksternal, Presiden AS Donald Trump terus menyerang Cina dengan mengatakan virus corona berasal dari sebuah laboratorium di Negeri Tiongkok. Trump meminta China untuk bertanggung jawab hingga Covid-19 menjadi pandemi global dan menuntut kompensasi atas kerusakan ekonomi AS.

Hubungan kedua negara kini semakin memburuk setelah AS kembali ikut campur urusan Hong Kong yang merupakan wilayah administratif Cina. Donald Trump mengatakan, pekan ini AS akan mengumumkan langkah apa yang akan diambil ke Cina terkait Undang-undang keamanan yang akan diterapkan di Cina.

Selain itu, Portugal, Negara Yunani, Spanyol, Italia, Belanda, Swedia dan Islandia mewacanakan untuk membuka kembali industri pariwisatanya. Kemudian dari AS, untuk pertama kalinya kemarin para trader kembali menjejakkan kakinya di lantai bursa saham New York, setelah tutup sejak 23 Maret 2020.(PS)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here