Siap-Siap Tarif Angkutan Umum Naik Saat New Normal

Angkutan kota. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Penerapan aktivitas normal baru atau new normal akan berdampak pada penyesuaian tarif angkutan umum. Beberapa sektor trasnportasi sedang mengkaji potensi kenaikan biaya penumpang akibat pembatasan-pembatasan saat new normal nanti.

Direktur Utama PT Kereta Api Indoensia (KAI), Didiek Hartantyo, pada Jumat silam (22/5) telah mengusulkan penyesuaian harga tiket keretapai jarak jauh saat new normal.  Upaya ini dimungkinkan demi menopang operasional mengingat adanya pembatasan jumlah penumpang sebesar 50 persen.

“Nantinya kita akan melihat new normal ini sesuai dengan arah kebijakan pemerintah terkait relaksasi daripada protokol covid-19. Kami akan ikuti jadi kami sudah menyiapkan skenario-skenario, tergantung level relaksasinya. Salah satunya dengan menaikkan harga tiket,” kata Didiek.

Dari sektor udara, Kementerian Perhubungan telah merilis Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 88 tahun 2020 tentang penetapan sementara tarif batas atas (TBA) penumpang pelayanan kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Keputusn ini ditandatangani Ad Interim Menhub Luhut Binsar Pandjaitan pada 22 April 2020.

Keputusan itu menguraikan beberapa pertimbangan kenaikan sementara TBA, yakni kenaikan harga tukar rupiah, perubahan harga avtur, dan biaya per unit, yaitu biaya per penumpang yang diperoleh dari biaya total operasi pesawat udara yang disebabkan physical distancing selama PSBB.

KM 88/2020 ini juga mengatur  tarif batas bawah (TBB) dengan ketentuan paling sedikit 50 persen dari tarif batas atas sesuai kelompok pelayanan yang ditetapkan. Tarif ini berlaku untuk rute penerbangan ke dan atau dari bandara yang berada pada wilayah yang telah ditetapkan PSBB.

Potensi kenaikan tarif juga terjadi pada angkutan darat. Direktur Sarana Transportasi Jalan Ditjen Perhubungan Darat Kemenhu,  Sigit Irfansyah mengatakan, penyesuian tarif mungkin dilakukan pada bus AKAP kelas ekonomi.

Menurutnya, penyesuaian tarif ini tak bisa dilepaskan dari faktor keterisian penumpang. Saat new normal, pembatasan kapasitas angkutan tetap akan berlaku sebesar 50 persen dari total kursi yang tersedia.

“Tarif ekonomi coba kita hitung ulang bagaimana cara mengukurnya. Kan kapasitas dikurangi, pasti akan disesuaikan dengan formula yang ada, nanti akan keluar regulasi baru,” ungkap Sigit di sela diskusi online bersama Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Rabu silam (27/5).

Pemerhati masalah transportasi, Budiyanto menanggapi, kehadiran pemerintah sangat penting untuk mencarikan kebijakan yang solutif. Di mana pengusaha angkutan umum tak dirugikan dan konsumen tak kepayahan.

“Pemerintah perlu memberikan payung hukum terhadap tarif angkutan umum supaya terkontrol atau tidak terlalu membebani masyarakat,” tuturnya.

“Termasuk menjamin penambahan jumlah armada, waktu kedatangan yang tidak lama untuk menghindari penumpukan penumpang dan mengefektifkan petugas pengawasan untuk mengeliminir pelanggaran,” kata dia.(EP)

 

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here