IMF: Afrika dan Asia Bakal Pimpin Inklusi Keuangan Digital

Pemakaian uang digital untuk pembayaran. Foto: Xinhua

Indonesiainside.id, Jakarta – Dana Moneter Internasional (IMF) merilis studi tentang digitalisasi yang meningkatkan inklusi keuangan pada 2014 hingga 2017 dan Afrika dan Asia bakal memimpin proses tersebut.

Teknologi mengubah lanskap sektor keuangan, meningkatkan akses ke layanan keuangan melalui cara-cara yang mendalam, menurut studi yang ditulis oleh Ratna Sahay, Ulric Eriksson von Allmen, dan lainnya tersebut.

Menurut studi itu, Ghana, Kenya, dan Uganda menjadi yang terdepan di Afrika. Sebagai perbandingan, Timur Tengah dan Amerika Latin cenderung menggunakan layanan keuangan digital secara lebih sederhana.

Di sebagian besar negara, layanan-layanan pembayaran digital berevolusi menjadi layanan pinjaman digital, saat sejumlah perusahaan mengumpulkan data pengguna dan mengembangkan cara baru untuk menggunakannya dalam analisis kelayakan kredit, menurut sebuah blog IMF terkait.

Juga diungkapkan bahwa nilai marketplacepinjaman, yang menggunakan platform digital untuk menghubungkan secara langsung pihak pemberi pinjaman dengan peminjam, meningkat dua kali lipat dari 2015 hingga 2017.

Meskipun sejauh ini layanan-layanan itu terpusat di China, Inggris, dan Amerika Serikat (AS), namun tampaknya layanan tersebut tengah berkembang di berbagai wilayah lain di dunia, seperti Kenya dan India, menurut blog tersebut.

Selama merebaknya pandemi Covid-19, teknologi menciptakan peluang-peluang baru bagi layanan keuangan digital untuk mempercepat dan meningkatkan inklusi keuangan di tengah penerapan kebijakan pembatasan dan aturan menjaga jarak sosial (social distancing), papar para penulis. Mereka juga mengungkapkan bahwa rumah tangga dan perusahaan kecil berpendapatan rendah dapat sangat diuntungkan dari kemajuan sektor uang elektronik (mobile money), teknologi finansial (financial technology/fintech), dan perbankan daring.

Kendati pandemi Covid-19 diperkirakan akan meningkatkan penggunaan layanan-layanan tersebut, namun hal itu juga menimbulkan sejumlah tantangan bagi pertumbuhan para pemain industri yang lebih kecil, dan menyoroti ketimpangan akses terhadap infrastruktur digital, kata mereka.

Tim penulis menambahkan bahwa untuk memanfaatkan tingginya potensi layanan keuangan digital di era pasca-Covid-19, banyak faktor yang perlu diperhatikan, termasuk akses yang setara ke infrastruktur digital, tingkat literasi finansial dan digital yang lebih tinggi, serta menghindari bias data.(EP/xh)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here