Pandemi Jadikan Usaha Koperasi Sulit Pasarkan Produk

koperasi peduli
Koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) peduli Covid-19. Foto: Istimewa.

Indonesiainside.id, Jakarta– Dampak pandemi Covid-19 pada bisnis dan usaha koperasi di Indonesia saat ini mulai dirasakan oleh pengurus dan anggota koperasi.  Para pengurus koperasi mengatakan mulai kesulitan menjalankan bisnis seperti sebelum pandemi terjadi, demikian  keluhan ini diungkapkan bertepatan dengan peringatan hari koperasi di Indonesia pada 12 Juli.

Koperasi Wanita Kopi Gayo di Aceh, misalnya, sedang kesulitan menyalurkan hasil produksi kepada konsumen. Kesulitan terbesarnya ialah tidak dapat mengekspor kopi ke pelanggannya di AS.

“Biasanya dari enam bulan sebelumnya, kami sudah menerima pesanan, sekarang sampai bulan ini tidak ada pesanan ekspor,” kata Rizkani Ahmad, Ketua Koperasi Wanita Kopi Gayo, dalam diskusi online, Ahad (2/7) malam.

Dalam setahun Koperasi wanita Gayo mengekspor kopi ke AS sebanyak 20 kontainer. Koperasi yang beranggotakan 400 perempuan pemilik usaha kopi ini dapat meraih omzet sebanyak sekitar Rp30 miliar, dengan asumsi setiap kontainer senilai Rp1,5 miliar.

Akibat banyaknya hasil produksi kopi Gayo belum terjual, harga kopi Gayo saat ini turun. Anggota koperasi ini pun mengalami penurunan omzet.

Biasanya, Koperasi ini berani membeli kopi dari para anggotanya Rp20 ribu lebih mahal dari harga pasar, sebagai insentif karena telah menjadi anggota koperasi. Namun saat ini koperasi itu hanya bisa membeli sesuai harga yang berlaku di pasaran, yakni Rp40 ribu per kg.

Kondisi yang sama dialami oleh Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung, Malang, Jawa Timur. Koperasi yang sebagian besar anggotanya peternak sapi perah, saat ini mengalami kesulitan untuk memasarkan produknya, yakni susu sapi.

Biasanya koperasi ini menjual susunya ke hotel dan restoran di kawasan wisata di Malang. “Sejak terjadi pandemi, kami tidak dapat memasarkan produk kami seperti biasa,” kata M. Hariyanto, Ketua III KAN Jabung, dalam diskusi online yang sama.

Koperasi Jabung telah didirikan sejak 1979, saat ini memiliki anggota sebanyak 2.111 orang, dengan omzet hingga Rp150 miliar per tahun. Selama pandemi Covid-19 ini, para pengurus koperasi membutuhkan bantuan pemerintah. Selain membantu memasarkan kopi Gayo ke pasar ekspor, pengurus koperasi mengusulkan pemerintah menyalurkan dana bergulir yang disediakan pemerintah untuk program pemulihan ekonomi.

“Koperasi ini ibaratnya jadi nafas dan darah orang Gayo, masalah nasib rakyat Gayo. Hasil panen kami kemarin belum terjual, begitu juga hasil penen berikutnya,” kata Rizkani.

Sementara Koperasi Jabung berharap pemerintah pusat dan daerah memberikan bantuan untuk menyerap produk susu sapi yang melimpah. “Misalnya, khususnya pemerintah daerah, meminta setiap lembaga pendidikan pra sekolah, khususnya Pendidikan Anak Usia Dini, untuk mengkonsumsi susu, khususnya susu lokal,” tutur Hariyanto.

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Rully Indrawan yang hadir dalam diskusi online berjanji untuk mencarikan solusi kepada koperasi yang mengalami kesulitan selama Covid-19. “Kami belum tahu seperti apa, yang terpenting kami akan komunikasi dulu lebih intens dengan koperasi yang sedang mengalami kesulitan,” kata Rully.

Di Indonesia, koperasi adalah badan usaha yang keberadaannya dijamin melalui konstitusi dan undang-undang. Pada tahun ini hari koperasi telah memasuki usia ke-73 tahun sejak kongres pertama pada 12 Juli tahun 1947 di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Pada Februari 2020 lalu, Rully mengungkapkan, badan usaha berbentuk koperasi di Indonesia sebanyak sekitar 162 ribu, berkurang cukup banyak dari sebelumnya. Dalam empat tahun, pemerintah mencatat sekitar 81.686 koperasi ditutup atau membubarkan diri karena tidak aktif dan sebab lainnya. (AA/NE)  

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here