Kemiskinan Akibat Covid-19, Sri Mulyani: Perekonomian Indonesia Menggeliat

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjawab pertanyaan wartawan usai mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) tentang Kebijakan Stimulus ke-2 Dampak Covid-19 di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (11/3). Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta–Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan tingkat kemiskinan masyarakat meningkat akibat Covid-19. Kondisi ini memerlukan respons kebijakan pihak pemerintah secara tepat.

“Jumlah penduduk miskin meningkat dari 25,1 juta menjadi 26,4 juta atau menjadi 9,78 persen dengan kenaikan kemiskinan lebih tajam di kota,” jelas Menteri Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, rasio ketimpangan pengeluaran atau gini ratio juga meningkat, sehingga program pemulihan ekonomi harus terus dijaga agar tidak semakin melebar. Ia mengatakan berbagai lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global yang lebih buruk.

Misalnya Bloomberg yang memprediksi ekonomi AS mengalami kontraksi negatif 10,5 persen pada kuartal kedua dan Inggris tumbuh negatif 17,9 persen. Proyeksi pertumbuhan Indonesia menurut Bloomberg pada kuartal kedua juga turun lebih dalam dari negatif 3,1 persen menjadi 3,4 persen. Tapi kata dia, ada tanda-tanda perbaikan.

“Kalau kita lihat pada Juni ini ada tanda-tanda pembalikan pada ekonomi Indonesia, seiring dengan berbagai negara yang mulai melakukan pemulihan ekonomi,” lanjut Menteri Sri Mulyani.

Tanda lain adalah prompt manufacturing index (PMI) beberapa negara sudah mengalami perbaikan seperti AS, China, dan Malaysia yang sudah di atas 50.  Indeks PMI Indonesia kata dia masih di bawah 50 persen, namun polanya mulai menunjukkan perbaikan dan akselerasi pada Juni dibandingkan Mei.

Sri Mulyani mengklaim perekonomian Indonesia mulai menggeliat dan sedikit mengalami perbaikan pada bulan Juni dan Juli, setelah pada kuartal kedua diproyeksi mengalami pertumbuhan negatif hingga minus 5,08 persen.  “Ekspor kita tumbuh 15 persen secara bulanan dan impor tumbuh 27,56 persen,” jelas Menteri Sri Mulyani dalam konferensi pers virtual, Senin (20/7).

Indikator pemulihan menurutnya adalah pertumbuhan industri makanan dan minuman pada Juni mulai tumbuh positif 10 persen dari sebelumnya sempat tumbuh minus 50 persen pada Mei. Pertumbuhan juga terjadi pada sektor perdagangan eceran yang pada Mei minus 40 persen, kini pada Juni sudah mendekati 0 persen.

Pada perdagangan besar juga mulai ada tanda-tanda pemulihan dari sebelumnya minus di atas 30 persen, saat ini penurunannya sudah berada pada satu digit saja. “Meskipun ekonomi sudah mulai menggeliat, tapi inflasi masih sangat rendah, secara tahunan pada Juni hanya 1,96 persen,” kata dia.

Kondisi inflasi tersebut lebih rendah dari pola historisnya yang pada biasanya bearada di atas 2 persen pada Juni. Rendahnya inflasi juga terlihat pada periode Ramadan dan Idulfitri lalu karena adanya PSBB sehingga konsumsi masyarakat melemah.

“Kita berharap tren perbaikan ini akan terjaga terus. Kalau dilihat dari index keyakinan konsumen juga sudah mengalami pembalikan dan dari indeks ekspektasi kondisi ekonomi juga mengalami pembalikan cukup solid,” lanjut Menteri Sri Mulyani. (AA/NE)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here