Empat Masalah yang Sering Terjadi dalam Pelatihan Kerja Daring

Indonesiainside.id, Jakarta – Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) menggelar pelatihan kerja secara daring menggantikan tatap muka selama pandemi Covid-19. Meski demikian, penggunaan perangkat teknologi dalam aktivitas belajar tak semudah yang dibayangkan.

Pejabat Fungsional Pengantar Kerja Utama, Kementerian Ketenagakerjaan, Hery Sudarmanto mengatakan, setidaknya ada empat hambatan kesuksesan belajar daring. Pertama, peserta pelatihan pasif yang membuat instruktur kesulitan menganalisa pemahamaman peserta terhadap materi.

“Solusinya,  instruktur harus dapat membaca situasi dan banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang interaktif,” kata Hery, Senin (3/8).

Kedua, konsentrasi kegiatan belajar mengajar yang pecah akibat gangguan eksternal. Saat instruktur menyajikan materi pelajaran, sering kali peserta mengalami gangguan dari lingkungan di sekitarnya.

Tantangan ketiga, melakukan kolaborasi antarpeserta. Biasanya, apabila pelatihan dilakukan secara tatap muka,  instruktur dapat membagi kelompok peserta menjadi beberapa kelompok untuk diberikan tugas kelompok.

Kecepatan internet yang berbeda antarpeserta membuat kerja kelompok sulit terkoordinasi. “Beda dengan pelatihan daring, biasanya sulit untuk membagi peserta menjadi kelompok-kelompok kecil sehingga keterikatan antar peserta menjadi sangat rendah,” katanya.

Tantangan keempat, yakni infrastruktur jaringan internet. Sebagai negara berkembang, infrastruktur untuk jaringan internet di Indonesia dirasa belum merata, karena belum semua daerah di Indonesia telah terhubung jaringan.

“Harga kuota internet di Indonesia pun masih dianggap terlalu mahal dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara lainnya.  Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah apabila ingin memajukan pelatihan daring di Indonesia,” katanya.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here