Karena Persoalan Birokrasi, Investasi Indonesia Kalah dari Vietnam

RUU Cipta Kerja harus diarahkan untuk menyelesaikan permasalahan yang sudah lama hadir di Indonesia yakni keruwetan regulasi dan investasi. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkapkan Indonesia kalah dari Vietnam. Diantara tiga hal kekalahan adalah dalam upaya menarik investasi asing, yakni harga tanah, birokrasi, dan upah.

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan harus diakui secara jujur bahwa harga tanah di Indonesia sangat mahal dengan rata-rata harga sebesar Rp3 juta hingga Rp4 juta per meter, sementara di Vietnam hanya Rp1,27 juta per meter.  “Oleh karena itu, kami mendorong pembangunan kawasan industri di Batang dengan konsep baru yang dibangun bersama Kementerian BUMN dengan harga tanah jauh lebih murah dari Vietnam,” jelas Bahlil dalan diskusi virtual, Selasa (4/8).

Bahlil mengatakan investor yang serius berinvestasi bisa mendapatkan pembebasan sewa tanah selama lima hingga sepuluh tahun yang selanjutnya akan dikenakan biaya sewa dengan mekanisme yang fleksibel.  Selain itu, untuk lebih mempermudah investasi, Bahlil mengatakan seluruh proses perizinan akan diurus oleh BKPM hingga perizinan di tingkat kabupaten.

“Kemudian kita juga ada masalah pada birokrasi. Investor mau urus izin lokasi di pemerintah daerah bisa tiga tahun belum selesai dan belum tentu izin keluar,” jelas Bahlil.

Selain itu, juga ada arogansi dan ego-sektoral antara kementerian dan lembaga yang seringkali menghambat realisasi investasi. “Terkait ini, undang-undang omnibus law cipta lapangan kerja harus kita selesaikan karena nanti izin akan diserahkan ke Presiden baru kemudian didelegasikan kepada level di bawahnya dengan ada aturan main,” kata dia.

Kemudian, Bahlil mengatakan besaran upah minimum di Indonesia juga relatif tinggi sebesar 279 Dolar AS per bulan, sementara di Vietnam hanya 182 Dolar AS per bulan.   Bahlil mengatakan akan terus memperbaiki permasalahan yang ada agar investor semakin tertarik untuk berinvestasi di Indonesia sehingga target investasi sebesar Rp817,2 triliun pada tahun ini bisa terpenuhi.

Bahlil mengatakan hingga semester pertama 2020 Indonesia berhasil meraih investasi sebesar Rp402,6 triliun atau 49,3 persen dari target sepanjang tahun.  Dia mengatakan realisasi investasi tersebut tumbuh 1,8 persen dari tahun lalu dan mampu menyerap 566.194 tenaga kerja dari 57.815 proyek investasi.

Realisasi investasi pada semester pertama tersebut terdiri dari penanaman modal dalam negeri Rp207 triliun atau 51,4 persen dari total investasi dan penanaman modal langsung Rp195,6 triliun atau 48,6 persen. (AA/NE)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here