Ekonomi Indonesia Diyakini Memburuk, Indef: Pemerintah Sumber Resesi

Karikatur Pertumbuhan Ekonomi. Foto: Indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi RI kuartal kedua 2020 -5,32 persen (yoy). Kontraksi ini lebih dalam dari perkiraan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) sebelumnya, yakni -0,69 persen.

Ekonom senior INDEF, Didik J Rachbini yakin Indonesia akan masuk resesi pada kuartal berikutnya. Ekonomi akan jauh lebih buruk apabila kinerja pemerintah seperti sekarang ini, pandemi tak tertangani, penyelamatan ekonomi setengah hati.

“Pertama pemerintah yang diharapkan menjadi pengendali supaya tidak resesi terlalu jauh, tidak minus terlalu jauh, ternyata dari data yang dikeluarkan BPS dan fakta Presiden marah-marah, itu ternyata fungsi pemerintah menahan pertumbuhan minus ini tak berjalan,” kata Didik, Kamis (6/8).

Pertumbuhan kuartal kedua tahun ini menjadi angka pertumbuhan terendah sejak era Reformasi, tepatnya sejak kuartal pertama 1999 yang tumbuh -6,13 persen (yoy). INDEF mencatat, dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah mengalami tren perlambatan sejak capaian tertingginya di kuartal kedua 2018 sebesar 5,27 persen (yoy).

Sejak kuartal ketiga 2019, terjadi perlambatan (seasonally adjusted) terjadi di setiap kuartalnya dibandingkan dengan kuartal yang sama di tahun sebelumnya (yoy). Pandemi Covid-19 dinilai hanya mengonfirmasi akan rapuhnya strategi dan kebijakan ekonomi selama ini.

“Justru pemerintah menjadi sumber kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi negatif, yang saya yakin kuartal ketiga masuk resesi dan keempat akan masuk lebih jauh lagi apabila penanganan seperti ini,” ujarnya. (ASF)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here