Pengamat Mengingatkan Bahaya Defisit Nyaris Rp1.000 Triliun

pelabuhan di nunukan
Aktivitas pelabuhan di nunukan. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Pontianak – Pengamat Ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat, Prof Dr Eddy Suratman mengatakan adanya defisit RAPBN 2021 yang telah disampaikan Presiden Joko Widodo harus menjadi perhatian karena jumlahnya hampir mencapai Rp1.000 triliun.

“Target pendapatan negara pada RAPBN 2021 mencapai Rp1.776,4 triliun. Sedangkan belanja negara pada RAPBN diproyeksikan mencapai Rp2.747,5 triliun . Jadi ada defisit anggaran direncanakan sekitar 5,5 persen dari PDB atau sebesar Rp971,2 triliun,” ujarnya di Pontianak, Selasa(18/8).

Ia menambahkan bahwa di tengah wabah Covid-19 masih melanda dan sejumlah relaksasi pajak yang masih diterapkan tahun depan, maka target penerimaan yang hanya dominan mengandalkan perpajakan berat dipenuhi.

“Kalau memang target penerimaan pajak tidak maksimal karena relaksasi dan lainnya, maka bisa saja defisit kita tembus Rp1.000 triliun,” katanya.

Terkait persentase defisit anggaran 2021 sebesar 5,5 persen tersebut maka berdasarkan UU Nomor 17 tahun 2013 tentang keuangan negara maka melanggar. Hal itu karena dalam aturan tersebut maksimal defisit anggaran dalam APBN maksimal hanya 3 persen.

“Supaya tidak melanggar undang-undang maka perlu direvisi pasal yang mengatur batas maksimal defisit anggaran. Bisa saja batas maksimal defisit diubah menjadi 5 – 6 persen. Toh, negara luar juga ada mengatur defisit negaranya mencapai 7 – 8 persen,” jelas dia.

Adanya defisit anggaran, kata dia, tentu memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan belanja negara. Bisa dengan menjual aset namun tentu berat. Kemudian bisa dengan utang luar negeri maupun dalam negeri. Namun kini negara lain pun juta butuh utang.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here