Platform Daring Dinilai Mampu Tingkatkan Penjualan Batik

Salah satu pengrajin batik. Foto: antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Duta Besar RI untuk Korea Selatan Umar Hadi menilai bahwa platform penjualan daring sangat penting untuk memasarkan produk batik Indonesia ke luar negeri, di tengah tren ekspor batik yang menurun.

“Betapa digital online platforms sangat penting (untuk pemasaran batik di luar negeri, red), baik yang jangkauannya global seperti Amazon dan Alibaba maupun platform di masing-masing negara,” kata Umar dalam webinar yang digelar Kementerian Luar Negeri RI, Jumat.

Di dalam negeri Korea Selatan, misalnya, terdapat situs perdagangan elektronik yang berpotensi dimasuki produk batik Indonesia, yakni Coupang dan Gmarket. Dan menurut Umar, Kedutaan Besar RI harus berperan untuk menghubungkannya dengan perajin di Indonesia.

“Karena skalanya terlalu mahal kalau pengusaha sendiri yang mencari-cari platform online di Korea,” ujar Umar menjelaskan. Ia menambahkan bahwa penting juga untuk membawa pasar daring besar dari Indonesia kepada konsumen di negara tempat perwakilan.

Dubes Umar telah menjalankan sejumlah cara promosi untuk memperkenalkan batik Indonesia kepada masyarakat Korea Selatan, misalnya dengan menghadirkan Batik Persahabatan RI-Republik Korea.

Bagaimanapun, menurut dia, tahapan promosi dan pengenalan batik di luar negeri saat ini –menjelang tahun ke-11 pengesahan batik sebagai warisan budaya takbenda UNESCO– tidaklah cukup, sehingga harus ditambah dengan aksi langsung penjualan.

“Bayangkan jika teman-teman perwakilan RI di luar negeri canvassing (melakukan penawaran dan penjualan produk, red) ke perusahaan-perusahaan untuk mendapat penjualan yang sifatnya kontrak, misalnya untuk seragam,” tutur Umar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor batik dan produk batik pada periode Januari-April 2020 di tengah pandemi COVID-19 tercatat sebesar 13,48 juta dolar AS –angka yang relatif kecil.

Tren ekspor batik dan produk batik dari tahun ke tahun tercatat pula mengalami penurunan, misalnya yang tertinggi pada 2012 sebesar 229,98 juta dolar AS terus menurun hingga pada 2019 nilainya hanya di angka 54,28 juta dolar AS.

Umar menilai perkembangan seperti itu mungkin terjadi karena daya saing batik yang menurun, salah satunya diakibatkan oleh kurangnya kontrol kualitas yang berpengaruh pada masalah citra produk batik Indonesia. (EP/ant)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here