Daya Beli Menurun di Tengah Pandemi, Senyum Nelayan Terkikis

Petani rumput laut dan nelayan di Takalar, Sulsel. Foto: Andi Amriani

Indonesiainside.id, Makassar – Perikanan dan kelautan menjadi salah satu sektor yang sangat terdampak virus corona jenis baru (Covid-19).

Nelayan sebagai masyarakat pesisir juga merasakan dampak yang besar terhadap kehidupan dan aktivitas mereka sehari-hari. Meskipun mereka tetap bekerja di masa pandemi dan hasil tangkapnya lumayan banyak, namun nilai jualnya sangat menurun. Tetapi mereka terus bekerja meski hasil yang didapatkan dari segi pemasarannya tidak pasti.

Seperti halnya yang terjadi di Kabupaten Takalar. Kabupaten yang terletak di wilayah Sulawesi-Selatan ( Sulsel) ini, memiliki 10 kecamatan dan berpenduduk 295.000 jiwa. Dari jumlah kecamatan tersebut sebanyak 9 kecamatan berada di daerah pesisir dan kepulauan yakni kecamatan Mangarabombang, Galesong Utara, Galesong Selatan, Mappakasunggu, Sanrabone, Polombangkeng Selatan, Polongbangkeng Utara, Galesong dan Pattallassang, .

Khusus Kecamatan Mangarabombang, ada empat desa yang penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani rumput laut yakni, Desa Punaga, Cikoang, Laikang, dan Lamangkia. Di masing-masing desa ada sekitar ratusan nelayan, yang setiap hari menghabiskan waktunya di tengah laut untuk mendapatkan ikan dan hasil laut lainnya.

Zainuddin Dg Nakku tersenyum ramah, saat perahu nelayan yang membawa ikan menghampiri daratan. Di tepi laut, puluhan pedagang ikan, pengumpul, dan pembeli menyambut gembira dua kapal pengangkut ikan yang datang.

Transaksi jual beli ikan di tepi laut Desa Lamangkia, Kecamatan Mangarabombang terdengar riuh. Antara nelayan dan pedagang, saling tawar menawar dengan harga relatif rendah. Pedagang mengambil dari tangan nelayan kemudian menjualnya kembali di pasar.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here