Menkop Yakin Peran Batik Potensial, Sayangnya Pedagang Mengeluh Penjualan Anjlok Gara-Gara Pandemi

Indonesiainside.id, Banyuwangi – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengemukakan bahwa batik Banyuwangi sangat potensial untuk dikembangkan karena dapat memperkuat produk wisata di kabupaten ujung timur Pulau Jawa itu. Namun sayangnya, penjualan batik saat ini dikeluhkan sepi oleh para pedagang.

“Apalagi Banyuwangi sebagai daerah wisata dan batik akan memperkuat produk wisata Banyuwangi,” kata Menkop Teten Masduki saat kunjungan kerja ke Rumah Kreatif Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat(2/10).

Ia juga mengapresiasi perkembangan batik Banyuwangi dan mendorong pemerintah daerah setempat untuk terus menggerakkan ekonomi kreatif untuk memperkuat pariwisata daerah.

Kata Menkop, para wisatawan pasti akan mencari kekhasan suatu daerah. Kuliner dan oleh-oleh akan melengkapi pengalaman wisatawan saat berlibur di suatu daerah.

“Kain batik ini salah satu oleh-oleh yang diincar wisatawan, apalagi batik Banyuwangi ini konon punya pondasi filosofi yang kuat, ini sangat potensial dikembangkan,” tuturnya.

Namun sayangnya, pelaku usaha batik justru mengeluh. Contohnya pedagang di Kota Malang, Jawa Timur, menyatakan bahwa pandemi Covid-19 memberikan dampak cukup besar terhadap penurunan omzet penjualan batik di wilayah tersebut.

Pemilik Toko Batik Among Sari di Kota Malang, Jawa Timur, Abin Eka Pramana (44), mengatakan bahwa omzet penjualan batik sejak pandemi virus corona mengalami penurunan hingga 60 persen dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Omzet penjualan turun sekitar 60 persen akibat pandemi Covid-19 ini,” kata Eka, di Malang, Jawa Timur, Jumat.

Eka menambahkan penurunan penjualan batik tersebut mulai dirasakan sejak awal pandemi Covid-19 melanda Indonesia atau kurang lebih pada Maret 2020. Omzet penjualan sejak saat itu menurun cukup drastis.

Menurut Eka, kondisi yang terjadi saat ini dirasakan cukup berat bagi para pelaku usaha bisnis batik seperti dirinya. Bahkan, pada bulan Ramadhan lalu yang biasanya penjualan batik meningkat, pada akhirnya lesu akibat terdampak pandemi Covid-19.

“Pada saat Ramadhan seharusnya untuk pelaku usaha seperti kita itu merupakan masa peningkatan penjualan, namun kenyataannya lesu. Kondisi ini cukup berat,” kata pemilik toko di kawasan Kayutangan Kota Malang itu.

Eka mengatakan untuk mendongkrak penjualan batik di masa pandemi Covid-19, dirinya juga memanfaatkan platform digital seperti market place, dan media sosial lainnya. Namun, pemanfaatan platform digital tidak sepenuhnya mampu mendorong penjualan.

“Penjualan bertambah sekitar sepuluh persen. Namun, untuk berjualan batik secara online itu sulit, karena warna asli batik belum tentu sesuai dengan yang ada di foto,” kata Eka.(EP/Ant)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here