Kualitas Garam Rakyat Rendah, Jokowi: Ini agar Dipikirkan Solusinya

petambak garam
Petani memanen garam di lahan garam Desa Bunder, Pamekasan, Jawa Timur. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Presiden Joko Widodo menyoroti dua permasalahan utama penyerapan garam rakyat. Pertama, rendahnya kualitas garam rakyat sehingga tidak memenuhi standar industri.

Dia meminta menteri-menterinya mencari jalan keluar permasalahan itu. Menurut dia, hingga 22 September masih 738 ribu ton garam rakyat yang tidak terserap oleh industri

“Ini agar dipikirkan solusinya, sehingga rakyat garamnya bisa terbeli,” kata Presiden dalam rapat terbatas yang membahas mengenai Percepatan Penyerapan Garam Rakyat pada Senin (5/10).

Saat ini rata-rata industri nasional bisa menghasilkan garam dengan kadar NaCl 87-92 persen/ Sedangkan industri membutuhkan kadar NaCL paling tidak 97 persen, bahkan untuk farmasi mencapai 99 persen.

Masalah kedua menurut presiden adalah rendahnya produksi garam nasional. Kekurangan produksi ini menurut presiden seringkali diatasi dengan yaitu impor garam, masalah yang sudah berlangsung lama tanpa penyelesaian.

Sebagai contoh, kebutuhan garam nasional pada  2020 sebanyak 4 juta ton per tahun, sedangkan produksi garam nasional baru mencapai 2 juta ton. Akibatnya, alokasi garam untuk kebutuhan industri masih tinggi, yaitu 2,9 juta ton.

“Saya kira ini langkah-langkah perbaikan harus kita kerjakan, mulai pembenahan besar-besaran pada supply chain mulai hulu sampai hilir,” katanya.

Presiden meminta agar jajarannya memerhatikan ketersediaan lahan produksi dan meminta agar integrasi dan ekstensifikasi lahan garam rakyat di 10 provinsi dipercepat. Selain itu, Presiden Jokowi juga mendorong upaya agar produktivitas dan kualitas garam rakyat meningkat.

“Artinya, penggunaan inovasi teknologi produksi terutama washing plant harus betul-betul kita kerjakan.  Sehingga pascaproduksi itu betul-betul bisa memberikan ketersediaan terutama dalam gudang penyimpanan,” ungkap dia. (Aza/AA)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here