Kemarin Jokowi Akui Kualitas Garam Rakyat Rendah, Hari Ini Soroti Korporasi Petani dan Nelayan yang Tak Optimal

Presiden RI Joko Widodo. ANTARA/Biro Pers Setpres

Indonesiainside.id, Jakarta – Presiden Joko Widodo menyatakan sistem korporasi petani dan nelayan masih belum berjalan optimal. Hal itu disampaikan dalam rapat terbatas, Selasa (6/10).

Sehari sebelumnya, Presiden menggelar rapat terbatas yang membahas mengenai Percepatan Penyerapan Garam Rakyat pada Senin (5/10). Jokowi menyoroti permasalahan utama penyerapan garam rakyat. Yang pertama adalah rendahnya kualitas garam rakyat sehingga tidak memenuhi standar industri. Kedua adalah rendahnya produksi garam nasional.

Karena itu, Jokowi meminta menteri-menterinya mencari jalan keluar terkait kedua permasalahan itu. “Ini agar dipikirkan solusinya, sehingga rakyat garamnya bisa terbeli,” kata Presiden dalam rapat terbatas yang membahas mengenai Percepatan Penyerapan Garam Rakyat pada Senin (5/10).

Sementara pada rapat terbatas hari ini, Jokowi menyoroti banyaknya kelompok tani dan nelayan yang bermunculan. Namun belum menggarap secara serius proses dan model bisnis yang memiliki ekosistem berkesinambungan dan terhubung dengan BUMN atau bahkan pihak swasta.

Padahal, nelayan dan petani perlu didorong menggarap secara serius sistem korporasi untuk meningkatkan taraf hidup serta mewujudkan transformasi ekonomi. Untuk mewujudkan hal tersebut, Jokowi menyatakan perlu perubahan pola pikir dari yang semula hanya berfokus pada urusan budidaya pertanian menjadi sekaligus memikirkan aspek komersialisasi dan pemasaran dari hasil pertanian.

“Saya minta kita fokus membangun satu atau maksimal dua model bisnis korporasi petani atau korporasi nelayan di sebuah provinsi sampai betul-betul jadi,” kata Presiden di Istana Bogor, Jawa Barat pada Selasa.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here