Dolar Menguat Meski Stimulus AS Masih belum Pasti

uang rupiah dan dolar AS
Seorang karyawan money changer menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), ketika investor berubah bersikap hati-hati setelah penelitian COVID-19 dari Johnson & Johnson dihentikan sementara dan harapan meredup bahwa paket stimulus fiskal AS dapat dicapai sebelum pemilihan presiden.

Indeks-indeks ekuitas utama lebih rendah, sebagian karena penurunan saham J&J setelah perusahaan menghentikan penelitiannya karena penyakit yang tidak dapat dijelaskan pada partisipan, mengurangi optimisme tentang vaksin. Eli Lilly juga mengatakan uji klinis untuk pengobatan antibodi COVID-19 dijeda.

Harga konsumen AS naik 0,2 persen pada September, sesuai dengan ekspektasi, merupakan kenaikan bulanan keempat berturut-turut, meskipun laju tersebut telah melambat di tengah kelesuan cukup besar dalam ekonomi karena pemulihan perlahan dari titik nadir yang disebabkan oleh penutupan virus corona.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,528 persen, menempatkannya di jalur untuk persentase kenaikan harian terbesar dalam tiga minggu.

Daya tarik safe-haven mata uang AS telah dibatasi dengan meningkatnya ekspektasi bahwa kemenangan mantan Wakil Presiden AS Joe Biden pada 3 November akan membawa stimulus besar bagi ekonomi yang dilanda pandemi, memperkuat pasar saham dan selera risiko investor.

“Ini menjadi semakin jelas bagi orang-orang bahwa tidak ada stimulus sebelum pemilihan,” kata Erik Nelson, ahli strategi mata uang di Wells Fargo di New York.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here