Core Indonesia: Investor Tidak Satu Suara Menyambut Undang-Undang Cipta Kerja

Demo penolakan UU Cipta Kerja. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Keyakinan pemerintah bahwa omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja mampu meningkatkan investasi di Indonesia tidak terbukti. Beberapa investor justru meragukan manfaat dari beleid tersebut pada perbaikan iklim investasi, terutama karena dianggap permisif terhadap kelestarian lingkungan.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, investor tidak satu suara menyambut pengesahan undang-undang tersebut.

Beberapa waktu lalu beredar surat terbuka dari 35 investor global dengan nilai penanaman modal sebesar USD4,1 triliun di Indonesia, yang memandang bahwa undang-undang tersebut justru akan merusak iklim investasi.

Para investor khawatir bahwa perubahan pada kerangka perizinan, pemantauan kepatuhan lingkungan, konsultasi publik dan sistem sanksi akan berdampak buruk terhadap lingkungan, hak asasi manusia dan ketenagakerjaan.

Kekhawatiran mereka ini dianggap bisa menimbulkan ketidakpastian yang signifikan dan dapat mempengaruhi daya tarik pasar Indonesia. Surat terbuka juga dilayangkan oleh Sumitomo Mitsui Trust Asset Management, sebuah perusahaan investasi dari Jepang kepada Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar.

Investor tersebut mengkhawatirkan keberlangsungan investasi jangka panjang, karena undang-undang tersebut berpotensi merusak iklim investasi yang sudah berlangsung cukup baik selama ini.

Menurut Faisal, respons negatif investor pada aturan ini karena mereka dari negara dan sektor yang memiliki preferensi berbeda. Misalnya investor asal Jepang, menurut dia banyak bergerak pada sektor manufaktur dan punya sejarah panjang dalam investasi di Indonesia.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here