Maskapai ANA Catatkan Rugi Terbesar dalam Sejarah, Karyawan Dikurangi, Pesawat Dijual Agar Bisa Bertahan

Armada pesawat terbang maskapai ANA

Indonesiainside.id, Tokyo – Maskapai raksasa asal Jepang, ANA Holdings Inc. memperkirakan menderita kerugian operasional terbesarnya sebesar 505 miliar Yen atau 4,8 miliar dolar untuk tahun fiskal hingga Maret 2021. Hal ini karena maskapai penerbangan global ini menghadapi ancaman serius akibat pandemi.

Bersamaan dengan hasil kuartalannya, maskapai ini juga meluncurkan rencana restrukturisasi. ANA akan menargetkan pengurangan biaya 150 miliar Yen di tahun fiskal ini, mengalihkan ratusan karyawan ke perusahaan lain dan menjual pesawat.

Analis memproyeksikan, rata-rata, kerugian operasional sebesar 376 miliar yen untuk tahun ini saja, merujuk perkiraan yang dilansir oleh Bloomberg.

Industri penerbangan global yang memiliki pasar senilai 838 miliar akan mengalami penurunan pendapatan hingga setengahnya tahun ini, dengan operator memangkas pekerjaan dan mengamankan pendanaan untuk keluar dari krisis.

ANA, maskapai penerbangan terbesar di Jepang, mengalami penurunan tajam dalam lalu lintas penumpang domestik dan internasional, dan berencana untuk mendapatkan sekitar 400 miliar Yen dalam bentuk pinjaman subordinasi untuk menjaga operasional tetap berjalan.

Presiden ANA Holdings Shinya Katanozaka mengatakan hasil pendapatannya menurun “sangat serius,” dan menambahkan bahwa grup akan mengambil langkah berani untuk membalikkan bisnisnya.

“Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk kembali bertahan di tahun bisnis berikutnya,” katanya.

Di bawah rencana restrukturisasi, ANA mengatakan akan memensiunkan 35 pesawat – 28 di antaranya lebih awal – termasuk 22 badan lebar Boeing Co 777, dan menunda pengiriman satu pesawat superjumbo 777 dan satu Airbus SE A380.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here