Menangkap Peluang Dulu Baru Meraup Untung dari Bisnis di Tengah Pandemi

Rikam, tengah mengecat peti jenazah di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Kamis (23/4/2020). Muhammad Zubeir/Indonesiainside.id

Peluang usaha terkadang memang harus dicari. Namun, tak jareang juga peluang itu datang sendiri, lalu ditekuni, dan hasilnya dapat dinikmati. 

Sebuah kisah datang dari seorang pengusaha yang awalnya prihatin karena dua kerabatnya “terpaksa” dimakamkan menggunakan peti mati dari kayu biasa. Padahal, dalam keyakinannya, orang yang meninggal seharusnya diberikan yang terbaik, peti mati sekali pun.

Lie A Mien, pengusaha furniture asal Tangerang, Banten, menceritakan dua pengalaman buruk terkait kebutuhan peti mati di tengah pandemi. Maret lalu, adik iparnya meninggal karena Covid-19. Sementara rumah sakit hanya bisa menyediakan peti mati berkualitas rendah.

Dua pekan berselang, besan A Mien juga meninggal dengan alasan yang sama, dan memperoleh peti mati yang buruk pula. Dalam tradisi dan keyakinannya, diajarkan untuk memberikan pelayanan yang layak kepada jenazah, termasuk menyediakan peti mati terbaik.

“Kami sekeluarga sedih. Mereka terkena musibah Covid-19, masak iya peti yang digunakan pun dari pinggir jalan hasil kayu sisa. Itu tidak manusiawi,” ungkap A Mien kepada Anadolu Agency, pada Rabu (28/10).

Sementara bisnis yang A Mien urusi sabah hari adalah furniture dari kayu, bahan yang sama untuk membuat peti mati. Berdasarkan informasi, sepanjang Maret-April itu Tim Tanggap Covid-19 Jakarta memang tengah kesulitan memperoleh peti mati, seiring jumlah korban meninggal terus berjatuhan.

Sesuai standar kesehatan, setiap jenazah yang meninggal di tengah pandemi Covid-19 harus dimakamkan dengan menggunakan peti mati.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here