UU Cipta Kerja Bagus, tapi Terlambat 20 Tahun, Sekarang Tak Bisa Lagi Mendorong Transformasi Masyarakat

Demo penolakan UU Cipta Kerja. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM Tadjuddin Noer Effendi mengatakan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja berusaha membangun ekosistem investasi yang lebih baik. Namun, menurut dia, secara demografi UU ini terlambat paling tidak 20 tahun.

“Seharusnya muncul 20 tahun lalu, saat ada perubahan besar demografi kita. Angka tenaga kerja meningkat dan aliran angkatan kerja kita dari pertanian ke industri juga meningkat,” katanya, Selasa (17/11).

Menurut dia, jika 20 tahun lalu itu ada aturan investasi ini sudah ada, maka tidak ada keterlambatan transformasi masyarakat Indonesia. Dia mengatakan, proses transformasi ekonomi dan ketenagakerjaan serta peralihan angkatan kerja dari sektor pertanian ke industri dahulu seharusnya didukung oleh ekosistem investasi yang baik.

Setiap proses transformasi akan menyebabkan perubahan sosial dari budaya kerja, jaminan pekerjaan dan jaminan hari tua. “Di negara kita itu tidak terjadi karena ekosistem investasi belum ada. Peralihan angkatan kerja kita dari pertanian bukanlah dominan ke industri namun ke sektor informal.”

“Sebanyak 60 persen tenaga kerja kita di sektor informal, hanya 40 persen saja yang ke sektor formal,” kata dia.

Dampak dari angkatan kerja yang bekerja di sektor informal ini menjadikan pekerja kita lebih banyak menekuni pekerjaan dengan penghasilan rendah, jam kerja tidak teratur, tidak dilindungi UU, bahkan tidak mendapat bantuan dari pemerintah.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here