BI Tambah Likuiditas Perbankan Hingga Rp680 Triliun

Ilustrasi uang rupiah. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Bank Indonesia menambah likuiditas (quantitative easing) di perbankan hingga 17 November sebesar Rp680,89 triliun.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penambahan likuiditas tersebut utamanya bersumber dari penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sekitar Rp155 triliun dan ekspansi moneter sekitar Rp510,09 triliun.

Dia menjelaskan longgarnya kondisi likuiditas mendorong tingginya rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yakni 30,65 persen pada Oktober 2020 dan rendahnya rata-rata suku bunga pasar uang antarbank (PUAB) overnight sekitar 3,29 persen pada Oktober 2020.

Selain itu, Perry mengatakan kondisi likuiditas yang tetap longgar telah mendorong suku bunga terus turun dan mendukung pembiayaan perekonomian.

“Longgarnya likuiditas serta penurunan BI7DRR berkontribusi menurunkan suku bunga deposito dan kredit modal kerja pada Oktober 2020 dari 5,18 persen dan 9,44 persen pada September 2020 menjadi 4,93 persen dan 9,38 persen,” ujar Perry dalam konferensi pers virtual, Kamis.

Perry melanjutkan imbal hasil SBN 10 tahun turun dari 6,58 persen pada akhir Oktober 2020 menjadi 6,13 persen per 18 November 2020.

Sementara itu, pertumbuhan besaran moneter M1 dan M2 pada Oktober 2020 meningkat, yaitu sebesar 18,5 persen secara tahunan dan 12,5 persen secara tahunan.

“Ke depan, ekspansi moneter Bank Indonesia serta percepatan realisasi anggaran dan program restrukturisasi kredit perbankan diharapkan dapat mendorong penyaluran kredit dan pembiayaan bagi pemulihan ekonomi nasional,” tambah Perry.​​​​​​​ (EP/AA)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here