Mengenal Glaukoma, Si Pencuri Penglihatan Mata

Glaukoma dapat menyerang siapa saja, baik bayi ataupun manula Foto: Lifespan

Oleh: Anisa Tri Kusuma |

Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan glaukoma. Tapi, glaukoma bisa dikontrol.

Indonesiainside.id, Jakarta — Banyak di antara kita yang pernah mendengar cerita tentang glaukoma. Cerita-cerita tersebut biasanya didapat dari menyaksikan saluran televisi, membaca ulasan di majalah, atau dari mulut ke mulut. Meskipun begitu, tahukah anda apa itu glaukoma?

Glaukoma adalah penyakit saraf mata dimana terjadi kerusakan saraf yang menyebabkan hilangnya fungsi penglihatan yang permanen secara perlahan dan peningkatan tekanan bola mata merupakan faktor risiko utama.

Penyakit ini merupakan penyebab kebutaan kedua terbesar setelah katarak. Glaukoma sering disebut sebagai pencuri pengelihatan karena penyakit ini sebagian besar tidak bergejala sehingga pasien cenderung tidak menyadari bahwa dirinya memiliki glaukoma hingga akhirnya terjadi kerusakan fungsi penglihatan yang cukup berat. Kerusakan ini bersifat permanen, dan dapat berakhir pada kebutaan.

Ilustrasi mata normal dan penderita glaukoma. Foto: Yayasan Glaukoma Indonesia

Glaukoma merupakan salah satu penyebab utama kebutaan di seluruh dunia, khususnya di Asia. Glaukoma dapat merusak penglihatan dengan perlahan sehingga seringkali penderita tidak menyadari kerusakan tersebut sampai akhirnya kerusakan yang terjadi sudah pada tahap lanjut.

Hal itu tentu sangat meresahkan, maka kami menyarankan untuk dilakukan check-up rutin pada mata anda sejak usia muda. Skrining glaukoma terutama sangat penting pada pasien dengan riwayat keluarga memiliki glaukoma, berusia di atas 40 tahun ataupun mengidap penyakit diabetes melitus.

Tipe glaukoma yang umum terjadi adalah Glaukoma Primer Sudut Terbuka (Primary Open-Angle Glaukoma) dan Glaukoma Primer Sudut Tertutup (Primary Angle Closure Glaukoma) dimana keduanya memiliki mekanisme yang berbeda.

Gejala yang bisa terjadi adalah:

  • Berkurangnya penglihatan secara perlahan, biasanya di kedua mata.
  • Jika sudah berada di tahap lanjut, maka penglihatan akan seperti memiliki frame hitam atau sering disebut juga Tunnel Vision.

Ilustrasi penderita penyakit glukoma

Perjalanan Penyakit Glaukoma
Glaukoma biasanya bersifat kronik progresif, yang artinya kerusakan terjadi dalam waktu yang lama dan semakin lama semakin berat. Penyakit ini umumnya terjadi pada kedua mata dengan tingkat keparahan yang bisa saja berbeda. Kerusakan saraf pada glaukoma menyebabkan hilangnya lapangan pandang seseorang.

Seringkali hilangnya luas penglihatan awalnya terjadi pada sisi perifer atau tepi, sehingga pasien tidak memiliki keluhan dalam aktivitas sehari-hari. Apabila tekanan intraokular terus tidak terkontrol maka penglihatan sentral pun akan rusak secara permanen.

Gejala Glaukoma
Pada kebanyakan kasus, peningkatan tekanan intraokular berlangsung perlahan dan tidak bergejala. Pada sebagian kecil kasus, gejala dapat muncul berupa :

  • Penglihatan berkabut
  • Sakit kepala disertai sakit di sekitar bola mata
  • Mual atau muntah
  • Melihat halo atau pelangi disekitar cahaya
  • Penglihatan buram mendadak

Siapa Saja Yang Rentan Terkena Glaukoma?
Glaukoma dapat menyerang siapa saja dari semua golongan umur, baik bayi ataupun manula. Walaupun semua orang dapat menderita glaukoma, terdapat beberapa golongan yang memiliki risiko lebih tinggi diantaranya:

  • Riwayat keluarga dengan glaukoma
  • Usia diatas 40 tahun
  • Ukuran kacamata minus atau plus yang tinggi
  • Ras Asia atau Afrika
  • Menderita diabetes
  • Penggunaan obat-obatan steroid
  • Ketebalan kornea yang tipis

Kapan seseorang perlu melakukan skrining glaukoma?
Deteksi dini merupakan cara pencegahan kebutaan akibat glaukoma yang paling penting. Kerusakan akibat glaukoma bersifat permanen sehingga apabila kerusakan sudah terjadi, gangguan pengelihatan yang sudah terjadi tidak bisa dikembalikan lagi.

Skrining berkala dilakukan untuk mendeteksi glaukoma secara dini. Pemeriksaan skrining glaukoma biasanya dilakukan pada:

  • Sebelum usia 40 tahun: setiap 2-4 tahun
  • Sesudah usia 40 tahun: setiap 2 tahun
  • Dengan riwayat keluarga memiliki glaukoma: setiap 1 tahun

Hal penting yang perlu Anda cermati, bahwa glaukoma sebagian besarnya tidak bergejala sehingga pasien cenderung tidak mengetahuinya. Maka dari itu, deteksi dini merupakan cara pencegahan kebutaan akibat glaukoma yang paling penting untuk dilakukan. Dan, bagi Anda yang masih ingin menambah pengetahuan tentang glaukoma, utamanya cara diagnosa dan terapinya, nantikan artikel selanjutnya. (Kbb)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here