Bendera Tauhid, Kenapa Identik Organisasi Terlarang?

Viral di Medsos pengibaran bendera Tauhid oleh sejumlah siswa MAN 1 Sukabumi. Foto: Istimewa

Oleh: Azhar AP

Indonesiainside.id, Jakarta – Pengibaran bendera Tauhid kembali ramai. Sebuah foto pengibaran bendera Tauhid oleh sejumlah siswa yang telah diidentifikasi terjadi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Sukabumi, Jawa Barat.

Kemunculan foto tersebut menuai kontroversi. Ada kekhawatiran tumbuhnya radikalisme di sekolah. Sebagian menafsirkan sebagai bendera khilafah hingga keterkaitan dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah lama dibubarkan.

Anggota DPR Komisi VIII Ace Hasan Syadzily mengidentikkan bendera tersebut dengan organisasi terlarang saat menanggapi foto yang diunggah oleh akun @Karolina_bee11. Dia juga menautkannya juga ke akun Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

“Pak Menag @lukmansaifuddin mohon segera diklarifakasi ttg penggunanaan atribut bendera ini yang kabarnya berada di MAN 1 Sukabumi. Seharusnya Madrasah, apalagi yg dikelola @Kemenag_RI hrs mengedepankan semangat NKRI drpd penggunaan bendera yg identik dgn organisasi yg terlarang,” kata Ace dalam akun Twitternya @acehasan76.

Ace terus meng-update berita-berita soal bendera Tauhid tersebut dan meretwit jawaban Menag lewat Twitter. “Terima kasih atas perhatiannya Pak Menag @lukmansaifuddin Soal adanya potensi radikalisme yg masuk ke lembaga pendidikan patut diantisipasi semenjak dini. Kami sangat berharap Pesantren & Madrasah merupakan benteng utama tegaknya NKRI. Terima kasih Pak Menag,” tulis Ace menanggapi jawaban Menag.

Menag menulis, “Sejak semalam sudah ada tim khusus dari Pusat yg ke lokasi untuk investigasi. Saat ini proses penanganan di lapangan masih sedang berlangsung. Kami serius menangani kasus ini,” kata Menag menanggapi cuitan Acee.

Bendera Tauhid memang selalu diidentikkan dengan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Meski telah dibubarkan, sebagai masyarakat, bahkan tokoh dan politisi, masih alergi dengan pemunculan bendera tersebut.

Pada saat kampanye Pilpres 2019, pengibaran bendera Tauhid yang serupa juga sempat diramaikan. Namun tidak sampai viral. Hanya media tertentu yang seolah menggiring isu tersebut pada wacana khilafah atau HTI.

Di Wikipedia, bendera Tauhid diartikan dengan Ar-Rayah dan Al-Liwa yang berarti, salah satu dari sekian banyak variasi bendera dan panji dalam Islam. Cirinya adalah warna dasar putih dan hitam.

Bendera ini adalah panji penanda pasukan Nabi Muhammad dinamai Rayat Al-Uqab atau Panji Elang dan warnanya polos. Namun kemudian seluruh panji hitam dari pasukan Islam juga dinamai Al-Uqab. Bendera hitam seperti Al-Rayah diriwayatkan akan mengiringi kemunculan Imam Mahdi di akhir zaman.

Sementara di online shop seperti Shopee dan Bukalapak, bendera Tauhid dijual dengan bebas. Lewat mesin pencari Google, dua online shop ini muncul paling atas ketika diketik “bendera tauhid” atau kata kunci “ar-Rayah”.

 

bendera tauhid rasullulah Ar Rayah & Al Liwa.
Bendera Rasulullah Ar Rayah dan Al Liwa ukuran 150×100 cm Murah. Rp175.000

Misal di Shopee, tertulis bendera Tauhid Ar Rayah atau Al Liwa dengan rumbai emas dijual seharga Rp125.000. Di bagian lain ditulis, “Bendera Rasulullah Ar Rayah dan Al Liwa ukuran 150×100 cm Murah. Rp175.000.”

Di Bukalapak juga sama. Bendera Tauhid dijual seharga Rp50.000. Baik di Shopee atau Bukalapak, bendera yang dijual mirip dengan bendera yang dibentangkan siswa MAN 1 Sukabumi itu.

Namun, kenapa jika ada bendera Tauhid dikibarkan langsung diidentikkan dengan HTI, khilafah, atau radikalisme? Pertanyaan ini dilontarkan juga aktivis dan pengamat media sosial Mustofa Nahrawardaya di akun Twitter Tofa Leman.

“Bendera Tauhid, Kok identik dgn Organisasi Terlarang. Apa nama organisasi terlarang itu? Trus apa mau ada pelarangan kepemilikan Bendera Tauhid? #ElusDada10Tahun,” tulisnya di akun @TofaGarisLurus.

Aktivis dan dai Ustadz Hilmi Firdaus juga mempertanyakan kehebohan bendera Tahuid tersebut. “Ketika siswa membawa bendera tauhid (bkn bendera HTI) sampai diinvestigasi, tapi Eljibiti malah dikasih hati…disitulah kita berpikir sdh saatnya…(isi aja sendiri),” tulisnya di akun Twitter @Hilmi28.

Akun yang menyulut komentar kontroversial di Twitter dengan menautkan gambar pengibaran bendera Tauhid adalah akun Aquamarine @Karolina_bee11. Di akun Twitternya, dia menulis:

“MAN atau madrasah Aliah Negeri adalah lembaga pendidikan Negwrj dibawah @Kemenag_RI. Apabila polah anak didiknya begini dilingkungan sekolah, apa yang akan dilakukan pihak @Kemenag_RI kepada instansi sekolahnya lokasi MAN 1 Sukabumi. Smoga tak terafiliasi penegakan khilafah.”

Dari akun ini muncul kehebohan di media sosial. Dari sinilah isu bendera Tauhid kembali memanas. Menteri Agama juga dirundung (di-bully) di media sosial oleh dua kubu yang berseberangan.

Di satu pihak dia di-bully karena menginvestigasi kasus tersebut. Di sisi lain, dia di-bully terkait kemunculan isu bendera Tauhid di sekolah. Lalu, siapa yang salah karena mengidentikkan bendera Tauhid dengan isu radikalisme dan organisasi terlarang? (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here