Sisi Lain Habibie (3): Lahir Dibantu Sanro, Sejak Kecil Sudah Suka Pesawat

- Advertisement -

Oleh: Azhar AP

Indonesiainside.id, Jakarta – Almarhum Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada hari Kamis, tanggal 25 Juni 1936. Kelahirannya bertepatan dengan 4 Rabiul Akhir.

Habibie adalah nama kakeknya. Anak keempat dari delapan bersaudara ini lahir dari pasangan Alwi Abdul Djalil Habibie-RA Tuti Marini Puspowardojo. Nama kecilnya adalah Rudy, dari nama aslinya Baharuddin Jusuf.

- Advertisement -

Kedelapan bersaudara ini adalah Titi Sri Sulaksmi, Satoto Muhammad Duhri, Alwini Kharsum, Bacharuddin Jusuf, Jusuf Effendy, Sri Rejeki, Sri Rahayu Fatima, Suyatim Abdurrahman. Saat adik bungsu Habibie lahir, bapaknya sudah tiada. Dia diberi nama Suyatim karena lahir dalam keadaan yatim, tapi dipanggil Timmy.

Dari buku biografinya berjudul: Mr Crack dari Parepare, yang ditulis A Makmur Makkah, Habibie lahir dengan bantuan dukun anak yang dikenal dengan sebutan Sanro (bahasa Bugis). Pada tahun 70-an, Habibie masih sempat bertemu dengan Sanro-nya, Italoge S Rina atau Indo Melo.

Karena di zaman itu memang belum ada bidan atau dokter anak, anak-anak Bugis yang lahir memang dibantu oleh Sanro dengan proses tradisional. Ari-ari bayi dipotong dengan sembilu (dari bambu) sebagai pengganti pisau. Lalu pusar bayi dibalut dengan ramuan tradisional.

Masa kecil Habibie, tidak ada yang istimewa. Sarapan paginya, biasanya roti, nasi goreng, atau sokko (ketan). Kue kegemarannya adalah barongko, kue khas Bugis-Makassar yang masih banyak ditemui hingga sekarang.

Satu lagi kue kesukaannya yang mungkin sudah jarang ditemui di Bugis-Makassar, yaitu bandang-bandang. Yaitu pisang raja dibalut adonan terigu yang dibungkus daun pisang lalu dikukus.

Di masa kecilnya, dia juga biasa ikut bermain dengan teman-teman sekampung. Namun tidak sering. Seperti main layang-layang, kelereng, dan mallogo (permainan tradisional Bugis).

“Saya orang yang suka menyendiri. Jadi tidak ambil pusing. Saya tidak merasa lebih pintar, tapi juga tidak merasa lebih bodoh. Tidak pernah merasa iri, dan tidak pernah mengganggu,” katanya, dikutip dari buku biografinya yang ditulis A Makmur Makka.

Dari dua bersaudara, Jusuf Effendy atau akrab disapa Fanny dan Habibie, memiliki karakter berbeda. Habibie senang tinggal di rumah. Dia suka membaca buku pada saja. Sedangkan Fanny Habibie tidak betah di rumah.

Kakak Habibie yang bernama Titi Sri Sulaksmi harus menyikapi berbeda kedua adiknya itu. Kepada Habibie, Sri harus membujuknya agar ikut bermain di luar rumah. Kepada Fanny, Sri malah harus banyak mengawasinya agar tinggal di rumah untuk belajar.

Menurut Sri, sejak kecil Habibie memang sudah bercita-cita jadi insinyur. Untuk urusan mengaji, Habibie jalan kaki dari ke rumah guru mengajinya. Dia belajar mengaji dengan metode berbahasa Bugis oleh seorang guru bernama Hasan Alamudi atau akrab dipanggil Kapitan Arab.

Tiba di rumah guru, Habibie ikut mengambil air untuk memenuhi pundi-pundi air atau bak tempat mencuci kaki yang sudah tersedia. Ini juga menjadi khas di rumah guru mengaji hingga tahun 90-an.

“Adik saya, Rudy, memang lebih serius. Ia bermain hanya setelah mengerjakan pekerjaan rumahnya. Jika main dengan Blokken (micano), ia suka membuat kepal terbang dan sebagainya. Sejak kecil itulah kesukaannya.”

Jika Habibie berselisih dengan adik-adiknya, dia akan diam kalau bersalah. Tetapi jika ia benar, pasti protes dan berteriak bahwa dirinya tidak bersalah.

Di luar rumah, dia ternyata tidak pernah berkelahi dengan teman-teman sebayanya. Dia memang suka menyendiri, tapi tetap ramah pada orang lain dan ikut bergaul.

Habibie memang masyhur pernah tinggal di Parepare. Padahal, di masa kecilnya, Habibie dan keluarganya pernah tinggal di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Itu terjadi pada Perang Dunia Kedua 1942. Saat tentara Jepang menduduki Parepare, keluarga Habibie mengungsi ke

Amparita, sekarang Sidrap. Kemudian pada 1942, dia pindah lagi ke Lantai di Barru, sekarang jalan poros Makassar-Parepare.

Desa sepi Lanrae dikenang oleh Habibie saat menerina Edward Warner Award pada 1994. “Pada waktu itu, pada pukul 10 pagi waktu Chicago sama dengan pukul 22.00 atau 10.00 malam waktu Indonesia bagian Timur. 50 tahun yang lalu, tidak ada orang menyangka atau terpikirkan bahwa anak kecil berusia 8 tahun, pada pukul 10.00 malam membaca Al-Quran di rumah Bugis dari kayu dan bambu di pinggir hutan. Tempat pengungsian saya bersama kekuarga, dan 50 tahun kemudian menerima penghargaan tertinggi dari International Cipil Aviation Award.”

Demikian kata Habibie saat menerima penghargaan dan pengakuan dari seluruh dunia mengenai kiprahnya di dunia penerbangan sipil. Kini, Habibie telah wafat. Sebuah sejarah emas dia torehkan untuk bangsa dan negara.

Presiden ketiga RI ini wafat di Jakarta, Rabu, tanggal 11 September 2019. Sehari setelahnya, dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta, Kamis (12/2019). Habibie mengembuskan napas di usia 83 tahun. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT. (Aza)

Berita terkini

Nasihat untuk Para Wartawan Muslim

Seorang wartawan bertanya kepada ustadz tentang hukum profesi yang digelutinya. Bolehkah bekerja menjadi wartawan dalam Islam? Demikian inti pertanyaannya yang ditujukan kepada Ustadz Ammi Nur...
- Advertisement -
ads1 mekarsari

Gubernur Gorontalo Larang Warga Tinggal di Rumah akibat Banjir Bandang

Indonesiainside.id, Gorontalo - Gubernur Gorontalo Rusli Habibie melarang warganya tinggal di rumah akibat banjir bandang yang melanda pada Jumat malam (3/7). “Sekarang yang kita lakukan...

12 Calon Pengantin di Nunukan Terdeteksi Positif Narkoba

Indonesiainside.id, Nunukan - Sebanyak 12 calon pengantin terdeteksi positif menggunakan narkoba setelah dilakukan tes urine oleh Badan Narkotika Nasional Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, sepanjang...

Menteri Luar Negeri Pakistan Positif Covid-19

Indonesiainside.id, Islamabad-- Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi hari Jumat (3/7) dinyatakan positif virus corona baru. Menulis di akun twitter, Shah Mahmood mengabarkan...

Berita terkait

Covid-19 Belum Terkendali, Jusuf Kalla: Masyarakat yang Harus Mengendalikan Diri

Indonesiainside.id, Jakarta - Laju penularan virus corona jenis baru (Covid-19) belum juga terkendali. Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla mengatakan, masyarakatlah yang...

Ternyata Dana Covid-19 yang Diributkan Jokowi Belum Diterima Kemenkes, Mantan Kasum TNI: Sudah Telanjur Jadi Kambing Hitam

Indonesiainside.id, Jakarta - Mantan Kasum TNI Letjen (purn) Johannes Suryo Prabowo menilai Kemenkes menjadi kambing hitam terkait penyaluran dana kesehatan untuk Covid-19. Karena dana...

Sungai Bone Meluap, Kampung Bugis Tenggelam, 4.141 Korban Banjir Mengungsi di Gorontalo

Indonesiainside.id, Gorontalo--Sebanyak 4.141 korban banjir di Kota Gorontalo memadati 12 lokasi pengungsian di Kota Gorontalo. Berdasarkan data Taruna Siaga Bencana (Tagana) lokasi pengungsian di...

Museum Rasulullah SAW Akan Dibangun di Area Perluasan Kawasan Ancol

Indonesiainside.id, Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 237 Tahun 2020 tentang Izin Perluasan Kawasan Ancol seluas 155 hektare dilakukan...

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here