Tatkala Tiba-Tiba Dipanggil dan Diminta Menghadap Habibie di Singapura

Bacharuddin Jusuf Habibie di masa muda. Foto: Istimewa.

Oleh: Arif S

Indonesiainside.id, Jakarta – Radio panggil (pager) saya berbunyi. Jarum jam sudah menunjukkan angka 21.10 WIB. Saya baru selesai makan malam. Saya baca isi pesan radio panggil itu.

Saya lalu melihat wajah istri saya yang belum terlalu lama saya nikahi. “Dik, saya harus ke Singapura besok. Kantor menugaskan saya meliput Asian Aerospace di Singapura selama empat hari. Kamu mudik saja ke Tulungagung. Nanti kalau saya sudah kembali, kamu ke Jakarta lagi,” kata saya pada istri.

Kami kala itu memang cuma berdua di rumah. Itu sebabnya saya merasa khawatir kalau istri sendirian di rumah. Ternyata, istri saya punya pendapat lain. “Kalau setiap kamu ada tugas ke luar kota atau luar negeri, saya harus mudik, kelak tidak akan pernah berani saya sendirian di rumah,” jawab istri saya. Jawaban itu membuat rasa waswas saya hilang dan tak ada keraguan lagi untuk berangkat ke Singapura.

Esok siang saya sudah mendarat di Bandara Changi, Singapura. Setelah mengurus kartu untuk peliputan, saya lalu masuk ruang pameran dan melihat stan Indonesia. Bertemulah saya dengan beberapa wartawan Indonesia dan staf PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang sekarang menjadi  PT Dirgantara Indonesia (DI).

Sore hari, usai liputan dari bandara di hari pertama Asian Aerospace 1995, saya kebingungan. Saya tidak mendapat penginapan, semua hotel penuh. Terpaksa saya hubungi Pak Parni Hadi (pemred Republika) yang kala itu kebetulan tengah mengantarkan istrinya berobat ke Singapura. Saya lalu dicarikan kamar dan mendapat suite room di Hotel Mandarin yang berada di Orchard Road.

“Kamu jadi raja semalam di kamar mewah. Besok kamu harus mencari dan bisa mendapatkan kamar hotel sendiri,” tutur Pak Parni. Saya pun mengangguk sembari mengucap terima kasih.

Di kamar mewah dan luas sendirian, saya malah sulit tidur. Apalagi ketika itu bulan Ramadhan. Saat sahur, saya hanya minum air putih lalu tidur lagi hingga subuh.

Tatkala keesokan hari saya berada di arena pameran dirgantara bandara, tiba-tiba humas IPTN -yang kemarin sempat berkenalan- mendatangi saya. “Mas, dipanggil Pak Habibie ke kamar hotel. Mari ke sana saya antar,” kata Pak Soleh, staf humas IPTN. Meski kaget, saya mengikuti saja ajakan dia. Menurut Pak Soleh, ada yang mau disampaikan Pak Habibie ke Republika. Saat itu Pak Habibie masih sebagai menristek dan kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

habibie dan ainun

Saya pun bertanya-tanya dalam hati. Kira-kira beliau mau bicara masalah apa ya? Karena sering liputan bidang transportasi dan penerbangan, saya beberapa kali bertemu Pak Habibie. Saya pun sedikit tahu karakter beliau. Orangnya selalu bersemangat, polos, apa adanya, dan bukan pemarah. Kalau bicara terkadang susah dihentikan. Bahkan teman saya menyebutkan Pak Habibie juga susah menerima pandangan orang lain dan sulit diberi masukan karena merasa paling pintar.

Diantar Pak Soleh, di sebuah kamar hotel yang supermewah, saya duduk di ruang tunggu. Di situ sudah ada pula Pak Dr Fuadi Rasyid, sekretaris Pak Habibie. Kami lalu berkenalan. Ternyata adik perempuan Pak Fuadi (Honesty Rasyid) juga bekerja di Republika dan saya pun kenal.

Pak Habibie lalu muncul dan meminta saya masuk ruangan. “Duduk sini, Rif,” kata Pak Habibie. Saya tersenyum dan membatin, pasti beliau sudah diberi tahu nama saya.  Kami pun duduk bertiga: Pak Habibie, Pak Fuadi, dan saya. Pak Soleh menunggu di luar.

Pak Habibie lalu bercerita. Pagi tadi ada orang menelepon ke ruangan tempatnya menginap. Pak Habibie menyangka, penelepon itu orang yang sudah kenal dekat dengannya. Lantaran itu pula apa yang ditanyakan penelepon itu dengan terbuka selalu dijawab. Bahkan Pak Habibie mengaku ada beberapa jawaban yang selama ini tak pernah diutarakan ke publik.

Setelah sekitar 30 menit bertelepon, orang itu pamit. Seketika Pak Habibie kaget dan bertanya. “Oh ya dik, Anda siapa?” tanya Pak Habibie. Orang itu menjawab sebagai koresponden Majalah Forum Keadilan Jakarta yang tinggal di Singapura dan kemudian menutup gagang telepon.  Tentu saja Pak Habibie jadi khawatir atas informasi yang dijelaskan ke koresponden Forum tadi.

“Karena itu Rif, saya ingin kamu mewawancarai saya tentang hal-hal itu sehingga nanti beritanya bisa lebih dulu muncul di Republika. Ini sebagai jawaban, supaya media lain tak lagi menulis tentang hal tersebut,” papar Pak Habibie.

Agak ragu sebenarnya saya hendak menjawab dan menyampaikan masukan. Kala itu saya merasa masih terlalu junior, baru dua tahun menjadi wartawan. Sementara Pak Habibie orang besar dan waktu itu sudah santer suara yang  menyatakan, bahwa beliau calon kuat menjadi wakil presiden. Apalagi, banyak yang menilai Pak Habibie sulit menerima masukan. Namun, saya kemudian nekat menyampaikan pendapat.

“Menurut saya, tidak perlu Republika memuat berita tentang Pak Habibie yang ada kaitannya dengan pernyataan Bapak yang disampaikan ke koresponden Forum tadi,” ucap saya sesopan mungkin.  Pak Habibie pun menanyakan alasan saya. Ada beberapa alasan yang saya kemukakan saat itu.

Pertama, kalau tiba-tiba ada berita tentang Pak Habibie di Republika yang terkait dengan isu sensitif dan sangat penting akan tetapi bersifat rahasia, orang dan media massa yang selama ini tidak tahu malah akan mengerti. Ibaratnya itu seperti memberi umpan lambung bagi media massa. Media-media lain yang tak sepemahaman akan menjadikan itu sebagai sasaran empuk untuk terus digoreng. Bukan tidak mungkin media yang tak suka dengan kiprah Pak Habibie akan meminjam mulut orang lain untuk terus berkomentar miring. Ini malah akan berlarut-larut dan merugikan Pak Habibie.

Kedua adalah soal etika. Cara koresponden itu mengorek informasi tidaklah benar. Itu menyimpang dari etika sebagai insan pers. Mestinya si koresponden itu memperkenalkan diri sejak awal dan menyebut medianya. Lantaran tidak sejak awal memperkenalkan diri, maka Pak Habibie bisa mengajukan keberatan jika apa yang disampaikan panjang-lebar itu dimuat.

Ketiga, Forum adalah majalah mingguan sehingga masih ada waktu empat hari lagi sebelum majalah itu terbit. Waktu empat hari itu bisa digunakan untuk menanyakan ke redaksi Forum, apakah akan membuat laporan tentang Habibie? Kalau iya, sebaiknya mohon agar informasi yang terkait hal-hal sensitif tidak dimuat karena sang wartawan tidak sejak awal menjelaskan identitasnya.

Keempat, Pak Habibie pasti kenal Pemimpin Redaksi Forum, Karni Ilyas. Sebaiknya, Pak Habibie menyuruh stafnya untuk menghubungi Karni Ilyas dan minta agar info-info sensitif serta  masuk kategori rahasia tidak dimuat dalam laporan Forum.  Mendengar saya menyebut nama Karni Ilyas, seketika bola mata Pak Habibie langsung berbinar. Beliau pun mengaku kenal dengan Karni Ilyas.

habibie-ainun menikah

Semula saya tak yakin Pak Habibie akan menerima masukan saya. Apalagi saya sering mendapat informasi dari orang lain, bahwa Pak Habibie -karena kecerdasannnya-  menjadikan dia susah menerima saran. Nyatanya, informasi ini sepenuhnya tidak benar. Pak Habibie bisa menerima masukan saya. Wawancara dengan beliau pun urung dilakukan.

“Baik Arif, terima kasih sarannya. Saya nanti akan menghubungi Karni Ilyas. Saya kenal baik dengan dia,” ujarnya. Senang bukan kepalang saya karena masukan saya diterima beliau, setelah berdiskusi sekitar satu jam. Pak Habibie lalu bercerita adanya beberapa orang yang tidak menyukainya. Orang-orang itu cenderung melakukan pelbagai upaya untuk menjatuhkannya.

“Ada yang mencoba untuk menawari saya dengan wanita. Lha saya tidak suka main wanita. Saya juga tak mau mencari uang dengan cara tidak benar. Mereka lalu mencari-cari celah untuk menjatuhkan,” urai pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 tersebut. Setelah itu, saya pun berpamitan dan diantar lagi ke Bandara Changi oleh staf humas IPTN yang ‘menculik’ saya tadi.

Keesokan harinya, staf IPTN itu memberi tahu saya, bahwa Karni Ilyas sudah ditelepon dan memang Forum tidak ada rencana membuat laporan tentang Habibie sama sekali. Dengan demikian, informasi yang dikorek koresponden tadi dijamin tak akan dimuat. Alhamdulillah saran saya membawa hasil, senang sekali rasanya.

Saat kembali ke hotel, tanpa direncana saya bertemu lagi dengan Pak Parni. Saya sempat bercerita perihal pemanggilan Pak Habibie pada saya. Pak Parni kemudian menyarankan agar saya mengikuti saja acara Pak Habibie di Singapura.

Pagi hari saat saya hendak ke Bandara Changi, ternyata di lobi hotel terlihat ada Pak Habibie dan rombongan. Lantaran kemarin sudah bicara lama dengan Pak Habibie, juga karena ada saran Pak Parni, maka saya pun memberanikan diri bertanya ke salah satu anggota rombongan Pak Habibie bernama Pak Paramayuda (kelak menjadi dirut PT DI), apa saya boleh ikut rombongan Pak Habibie? Tahu saya dari Republika, Pak Parama lalu mendekati Pak Habibie dengan agak ragu-ragu dan bertanya: ada wartawan Republika mau ikut, apakah Bapak berkenan?

Pak Parama menuding ke arah saya dan Pak Habibie mengikuti telunjuk Pak Parama. “Oh boleh, tidak apa-apa,” kata Pak Habibie. Kemudian Pak Parama menanyakan pada saya, apakah membawa jas. Saya pun mengangguk. Pak Parama tampak lega dan tersenyum.

Maka, naiklah saya satu mobil dengan Pak Parama. Di antara rombongan itu, saya satu-satunya yang bukan pejabat pemerintah. Rupanya rombongan lima mobil  mewah itu hendak menuju Istana PM Singapura, Lee Kuan Yew. Hanya Pak Habibie yang kemudian masuk ke ruang Lee Kuan Yew. Kami semua duduk di ruang tunggu. Untuk menuju ruang tunggu, kami melewati rute seperti labirin.

Ah pengalaman sesaat dengan Pak Habibie yang sungguh mengesankan. Tak terasa air mata saya menetes mengingat hal ini. Selamat jalan, Bapak Kebebasan Pers. Semoga damai di surga bersama Ibu Hasri Ainun Besari. Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu. (AS)

3 KOMENTAR

  1. Mantab bro..mmg Habibie salah satu putra terbaik bangsa..utk bbrp dasawarsa kedepan belum akan Ada yg mampu setara beliau. .Semoga Allah memberikan tempat terbaik disisiNya sesuai Amal baktinya bagi negara Dan masyarakat..

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here