Putra Bung Tomo Anggap Berpelukan dan Saling Sindir Biasa Saja dalam Politik

Surya Paloh dan Sohibul Iman
Ketum Partai NasDem Surya Paloh berpelukan dengan Presiden PKS Sohibul Iman di Jakarta, Rabu (30/10). Foto: Antara/ Puspa Perwitasari

Indonesiainside.id, Jakarta – Hubungan Partai NasDem dan partai koalisi pendukung Pemerintah bergejolak. Pelukan dan hubungan mesra Ketua Umum DPP Partai NasDem Surya Paloh dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman menjadi perhatian setelah disindir oleh Presiden Joko Widodo.

Namun, Bambang Sulistomo, putra pahlawan nasional Sutomo (Bung Tomo) menilai sikap saling rangkul, berpelukan, merupakan hal biasa dalam politik. Sebaliknya, saling sindir, bertentangan, dan beda sikap juga biasa-biasa saja.

“Dalam setiap langkah, kekuatan politik itu saling rangkul, saling sindir, dan bertentangan itu biasa. Enggak masalah,” katanya di Jakarta, Jumat (8/11).

Hal tersebut disampaikannya usai diskusi publik dalam rangka menyambut Hari Pahlawan ke-74 dengan tema “Pahlawan Anti-Radikal untuk NKRI, Indonesia Maju di Jakarta. Bambang pun mengamati dinamika politik yang terus berkembang.

“Kenapa? Pak Jokowi nyindir kok (Nasdem) mesra banget (dengan PKS)? Saya kira Pak Jokowi juga boleh nyindir seperti itu, enggak masalah, dan ketawa-ketawa semuanya kan,” kata Ketua Umum Ikatan Pendukung Kemerdekaan itu.

Artinya, kata dia, dinamika hubungan parpol pasti terjadi dan biasa dalam politik sebagai langkah untuk menunjukkan bargaining position setiap saat. Kepentingan itu bukan hanya untuk momentum tertentu.

“Rangkul-rangkulan pun mereka menghitung, pasti PKS ngitung dampaknya apa? NasDem juga ngitung dampaknya apa? Pasti itu, dan bolehlah menghitung,” tuturnya.

Bambang juga tidak yakin NasDem akan memilih beroposisi setelah mendukung mati-matian Jokowi-Ma’ruf Amin pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019. Apalagi, NasDem juga mendapatkan jatah tiga menteri pada Kabinet Indonesia Maju.

Tiga menteri NasDem di kabinet yakni Menteri Komunikasi dan Informatika Johny G Plate, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Menurut Bambang, setiap parpol pasti selalu melakukan bargaining untuk tujuan mendapatkan kekuasaan. Semua itu sah asalkan dimaksudkan untuk menyejahterakan rakyat.

“Parpol untuk apa? Tujuannya untuk kekuasaan. Kalau tujuan kekuasaan untuk menyejahterakan rakyat, tidak masalah. Yang penting, ada etika dan moral politik,” katanya. (Aza/Ant)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here