Ini Pendapat MUI dan Persis soal Peniadaan Salat Jumat

Ilustrasi salat jumat. Foto: Antara

Hari ini, dua negara memberikan imbauan peniadaan salat Jumat untuk mengindari penularan wabah virus Corona (Covid-19), yaitu Malaysia dan Singapura. Pekan lalu, Iran juga meniadakan salat Jumat karena wabah Covid-19.

Bagaimana pendapat tokoh Islam mengenai hal tersebut? Indonesiainside.id mengonfirmasi hal tersebut kepada dua tokoh Islam, yaitu Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Abdurrahman Dahlan dan Wakil Ketua Umum Persatuan Islam (Persis) Jeje Zaenudin.

Menurut Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Abdurrahman Dahlan, bangsa Indonesia patut bersyukur karena sejauh ini di Indonesia belum separah Singapura atau Malaysia. Namun, bisa saja Indonesia juga ditetapkan darurat virus corona. Jika hal itu terjadi, maka sangat mungkin salat Jumat juga ditiadakan.

“Tapi nanti kalau daerah-daerah tertentu sudah darurat, dalam arti sudah meyakinkan bahwa keadaan di daerah-daerah tersebut sudah secara meyakinkan mengancam keselamatan kita, maka saya setuju salat Jumat tidak wajib,” ujarnya di Jakarta, Jumat (13/3).

Sementara Wakil Ketua Umum Persis Jeje Zaenudin berpendapat, secara hukum fikih, kewajiban salat Jumat bisa gugur karena seorang sakit atau safar. Hal ini dikatakan Jeje terkait beberapa tempat yang menghentikan sementara ibadah Jumat karena wabah corona.

“Sekarang kasusnya adalah bukan sakit biasa dan yang tidak melaksanakan jumatannya juga tidak sebatas orang yang sudah terjangkit virus, tetapi secara keseluruhan yang sudah sakit maupun yang masih sehat,” kata Ustaz Jeje, kepada Indonesiainside.id, saat dihubungi, Jumat (13/3).

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here