Jakarta Episentrum Covid-19 dan Pusaran Gelombang Mudik

Kepadatan lalu-lintas di Jalan Gatot Subtoro, Jakarta, Rabu (23/4/2020). Foto: Muhammad Zubeir/Indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Jakarta – Sejak tradisi mudik dikenal di tengah-tengah masyarakat menjelang Lebaran, baru kali ini laju ritual pulang kampung dilarang.

Setiap tahun menjelang mudik, Jakarta dan wilayah Jawa selalu menjadi episentrum pergerakan jutaan manusia. Dari Jakarta ke wilayah Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan wilayah timur Indonesia lainnya.

Tak hanya warga, hampir semua sektor ikut sibuk untuk persiapan mudik, mulai dari mudik gratis hingga layanan bersponsor. Di setiap spot dan pintu gerbang utama tol selalu dijejali awak media untuk liputan dan laporan langsung.

Namun hiruk pikuk mudik tahun ini terhenti akibat pandemi global virus corona yang mewajibkan warga berdiam diri di rumah untuk memutus mata rantai penyebarannya. Meski tak sepenuhnya demikian karena tak sedikit juga yang membangkang alias tetap pulang kampung.

Larangan mudik memang tak sepenuhnya mampu menghentikan warga untuk bergerak pulang. Dalam banyak kasus, tak sedikit warga curi-curi momen. Mulai dari menumpang travel gelap, truk barang, bahkan menaikkan mobil ke truk towing. Kasus terbanyak yaitu mudik sebelum dilarang (keluar aturan resmi larangan mudik).

Meski begitu, gelombangnya tidak sedahsyat saat kondisi normal. Sebab ada pembatasan bus dan kereta api. Itu pun hanya terjadi dari Jakarta ke kota-kota dan daerah di Pulau Jawa, atau antarprovinsi di Pulau Jawa

Larangan mudik pada dasarnya berpusat di Jabodetabek yang juga sebagai episentrum Covid-19. Meski di luar Jakarta juga sudah ditemukan klaster-klaster Covid-19, seperti klaster Lembang (Jawa Barat), klaster Gowa (Sulsel), dan klaster Magetan (Jawa Timur). Namun, tak seganas penyebaran virus di Ibu Kota.

Karena itu, larangan mudik dari Jakarta sangat signifikan menahan eskalasi penyebaran Covid-19 ke daerah lain. Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) adalah zona merah dan episentrum Covid-19. Pada saat yang sama, juga sebagai pusat gelombang mudik baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

Secara geografis juga sangat memungkinkan pergerakan antarprovinsi melalui jalur darat. Penutupan atau pengetatan lalu lintas di jalan tol, tidak mampu menahan laju pemudik karena banyak jalur tikus atau jalan nontol.

Berdasarkan data Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS), dari 11 juta potensi pemudik Jabodetabek, ada 1 juta orang akan melakukan mudik intra-provinsi, dan 10 juta orang sisanya melakukan mudik lintas provinsi, yaitu Jawa (8,4 juta), Sumatera (1,4 juta), dan kawasan Timur Indonesia (0,3 juta).

Jika benar simulasi tersebut terjadi, bisa dibayangkan dampak yang akan ditimbulkan terkait penyebaran Covid-19 dari Jakarta ke daerah lain. Apalagi jika dilihat kasus penyebaran Covid yang hampir setenganya ada di Jabodetabek.

Berdasarkan data kasus Covid-19 secara nasional, DKI Jakarta jauh di atas provinsi lain di Indonesia, yaitu 4.539 kasus positif, disusul Jawa Barat sebanyak 1.252 kasus, Jawa Timur 1.124 kasus, dan Jawa Tengah 798 kasus. Data tersebut berdasarkan data per 4 Mei dengan total kasus 11.587.

Di Bekasi terdapat sebanyak 255 kasus positif, atau lebih dari 3.000 orang secara akumulatif dengan kategori orang dalam pemantauan (ODP) , pasien dalam pengawasan (PDP), dan terkonfirmasi positif.

Di Depok, ada sebanyak 311 kasus positif, dengan total kasus secara akumulatif sebanyak 5.672 kasus dengan kategori ODP, PDP, dan OTG (orang tanpa gejala). Khusus kasus PDP saja sudah mencapai 1.241 kasus, dengan perincian 791 masih dalam pengawasan dan 450 selesai dalam pengawasan.

Di Kota Bogor sebanyak 91 kasus positif, 1.130 ODP dan 187 OTG, dan 195 PDP. Sementara di Kota Tangerang sebanyak 176 kasus positif dan Tangerang Selatan sebanyak 111 kasus. Data-data tersebut di atas diperoleh dari laman resmi gugus tugas Covid-19 masing-masing kota yang menjadi penyangga Jakarta atau wilayah Jabodetabek.

Akal-akalan Pemudik
Menjelang Ramadhan 1441 Hijriah, aturan larangan mudik resmi diumumkan. Semua moda transportasi umum dihentikan, di darat, laut, dan udara. Jalan tol, terminal, bandar udara, stasiun, hingga pelabuhan, semuanya sepi untuk semua jenis moda transportasi umum.

Namun, apakah warga tetap diam di rumah saja? Ternyata tidak. Meski dilarang, roda kendali mudik tetap saja berputar. Warga yang nekat mudik punya banyak akal untuk mengelabui petugas. Yang berhasil dicegah sepertinya jauh lebih sedikit dibandingkan yang lolos pulang.

Mulai dari penyediaan dan penggunaan travel gelap, truk barang, hingga penggunaan truk towing yang mengangkut mobil pemudik. Belum lagi perjalanan malam para pemudik yang menggunakan kendaraan roda dua.

Perlu diwaspadai, jalan malam untuk saat ini cukup rawan dari ancaman kejahatan jalanan. Faktor ekonomi, banyaknya warga kehilangan pekerjaan, serta susahnya mencari makan, menjadi salah satu pemicunya.

Namun, sejauh ini masih aman-aman saja. Para pemudik juga tetap bergerak pulang. Meski banyak pemudik diperkirakan lolos, setidaknya ada sebanyak 21.000 kendaraan pemudik dipaksa memutar balik.

Salah satu kasus, Rabu malam (29/4), petugas yang berjaga di Pos Pengamanan Kedung Waringin di Kabupaten Bekasi (perbatasan Bekasi-Karawang), mengungkap modus travel gelap oleh pemudik keluar Jabodetabek.

Pihak kepolisian menemukan sejumlah rental mobil mematok harga tiket hingga Rp500.000 per orang untuk jasa mudik. “Mereka rata-rata ditarik bayaran antara Ro300.000 sampai dengan Rp500.000 per orang. Ada yang ke Purworejo dan daerah-daerah di Jawa Tengah,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Sambodo Purnomo Yogo di Kantor Subdit Gakkum Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (30/4).

Petugas Ditlantas Polda Metro Jaya di Pos Pengamanan Kedung Waringin juga memergoki sebuah bus yang berupaya menyelundupkan pemudik. Ditemukan enam penumpang bersembunyi dalam bus tersebut.

Selain itu, polisi mengamankan 15 unit kendaraan travel gelap dari Jabodetabek. 15 unit travel gelap itu membawa 113 penumpang menuju ke sejumlah kota di Pulau Jawa.

Di Semarang, petugas menahan truk towing yang mengangkut mobil pemudik di cek poin di sekitar Taman Unyil Kota Semarang. Namun, petugas hanya meminta truk tersebut berbalik arah.

Dengan modus yang sama, sebuah truk dengan nomor polisi G 1906 FR tertangkap basah menyelundupkan pemudik saat melintas i GT Cikarang Barat, Jumat (1/5). Saat diperiksa, yang ditemukan petugas bukan barang melainkan gerombolan pemudik menuju Brebes, Jawa Tengah.

Polda Metro Jaya akhirnya menurunkan tim khusus untuk menumpas praktik travel gelap dari Jabodetabek. Polda Metro Jaya akan menindak tegas temuan tersebut dengan menilang dan menahan kendaraan yang digunakan mudik.

Modus travel gelap tersebut menggunakan media sosial untuk memasarkan dan mengantar pemudik. Sedangkan pemudik dari Jakarta yang diangkut oleh travel gelap dan truk-truk barang akan dikembalikan ke Jakarta.

“Untuk truk juga sama, kita akan lakukan tindakan tegas. Truk itu ada pasal, bukan peruntukannya, truk itu mengangkut barang bukan manusia, makanya kita akan lakukan penilangan dan truknya jadi barang bukti sampai persidangan,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus di Polda Metro Jaya, Senin (4/5). (Aza/Ant)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here