Fudhail bin Iyadh: Perampok Ulung yang Bertobat dan Menjadi Guru Para Ulama

Ilustrasi.

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (QS Al-Hadid : 16)

Ayat di atas membuka hati Fudhail bin Iyadh yang sempat beku dari air mata takwa. Dia kemudian menjadi seorang ulama besar. Bahkan menjadi guru para ulama. Kata-katanya mengandung hikmah yang melekat dan memikat hati.

Dia juga.menjadi tokoh terkemuka dari generasi tabi’ut tabi’in. Banyak ulama besar yang mengambil ilmu dan meriwayatkan hadits dari beliau. Di antaranya adalah Ibnul Mubarak, Yahya bin Sa’id Al-Qatthan, Sufyan bin ‘Uyainah, Abdurrahman bin Mahdi, dan Imam As-Syafi’i.

Fudhail menjadi ahli ibadah yang banyak menghabiskan waktunya di Makkah dan Madinah. Kehidupannya penuh cahaya ilmu, amal, serta istiqamah membela kebenaran.

Nama lengkapnya Fudhail bin ‘Iyadh bin Mas’uud bin Bisyr At-Tamimi Al-Yarbuu’iy. Panggilannya Abu Ali. Dia adalah ulama besar yang hidup pada abad kedua, dan wafat pada tahun 187 H.

Namun, siapa sangka kalau Fudhail ternyata pernah dikenal sebagai perampok ulung? Bahkan tak ada kafilah berani lewat tatkala Fudhail terlihat dari jauh.

Abu ‘Ammaar Al-Husain bin Huraits berkata, “Aku mendengar Al-Fadhl bin Musa berkata, Al-Fudhail bin ‘Iyadh dulunya adalah seorang perampok yang menghadang orang-orang di daerah antara daerah Abiwarda dan daerah Sarkhos. Sebab beliau bertaubat adalah beliau pernah terpikat dengan seorang wanita, tatkala tengah memanjat tembok untuk menemui wanita tersebut.”

Tiba-tiba Fudhail mendengar seseorang membaca firman Allah:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah. (QS Al-Hadid : 16)

Saat mendengar lantunan ayat tersebut, dia langsung berkata: “Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk tunduk hati mereka mengingat Allah).”

Setelah itu, dia kembali dan  beristirahat  di sebuah bangunan rusak. Tiba-tiba ada kafilah yang sedang lewat. Sebagian mereka berkata: “Kita jalan terus,” dan sebagian berkata: “Kita istirahat saja sampai pagi, karena si Fudhail berada di arah jalan kita ini. Dia akan menghadang dan merampok kita.”

Mendengar percakapan itu, Fudhail berkata: “Kemudian aku merenung dan berkata: ‘Aku sedang melakukan kemaksiatan di malam hari (yaitu mengintip seorang wanita) padahal sebagian dari kaum muslimin di sini ketakutan kepadaku, dan menurutku tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan ini). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram’.” (Siyar A’laam An-Nubalaa 8/421 dan Tahdziib At-Tahdziib dgn tahqiq ; ‘Adil Mursyid  3/399)

Seorang tetangga Fudhail bin Iyadh berkata, “Fudhail bin Iyadh adalah perampok (hebat) sehingga tidak memerlukan komplotan dalam merampok. Suatu malam dia pergi untuk merampok. Tak berapa lama ia pun bertemu dengan rombongan kafilah. Sebagian anggota kafilah itu berkata kepada yang lain: “Jangan masuk ke desa itu, karena di depan kita terdapat seorang perampok yang bernama Fudhail.”

Fudhail mendengar percakapan kafilah itu dan gemetar. Dia tidak mengira orang-orang setakut itu terhadap gangguannya. Dia merasa betapa dirinya memberi mudharat dan bahaya bagi orang lain.

Fudhail pun berkata, “Wahai kafilah, akulah Fudhail, lewatlah kalian. Demi Allah, aku berjanji (berusaha) tidak lagi bermaksiat kepada Allah selama-lamanya.”

Sejak saat itulah Fudhail meninggalkan dunia hitam sebagai perampok. Dari riwayat lain, ada tambahan kisah bahwa Fudhail menerima kafilah tersebut sebagai tamunya pada malam itu.

Dia berkata, “Kalian aman dari Fudhail.” Lalu Fudhail mencari makanan untuk ternak mereka. Manakala dia pulang, dia mendengar seseorang membaca ayat:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَانَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَيَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)

Dari Abdullah Ash-Shomad Mardawaih Ash-Sha’igh, dia berkata: “Ibnul Mubarok berkata kepadaku bahwa sesungguhnya Fudhail merupakan bukti kebenaran kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan dimunculkan hikmah melalui lisannya. Dia termasuk manusia yang dikaruniai manfaat dari amal-amalnya.” (Siyar A’lam An Nubala 8/ 425).

Di antara mutiara hikmah yang diungkapkannya adalah: “Kosongkan hatimu untuk sedih dan takut, sampai keduanya dapat bersarang. Apabila sedih dan takut bersarang dihatimu, maka keduanya akan membentengimu dari melakukan maksiat dan menjauhkan dirimu dari api neraka.” (Siyar A’lam An-Nubala 8/ 438 ).

Fudhail juga berkata: “Jika kamu mampu untuk tidak dikenal, maka lakukanlah. Kamu tidak rugi walaupun tidak dikenal, dan kamu tidak rugi walaupun kamu tidak dipuji. Kamu tidak rugi walaupun kamu tercela di mata manusia, asalkan di mata Allah kamu selalu terpuji.”

Petuah-petuah emas Fuhail lainnya, antara lain:

لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً مَا جَعَلَتُهَا إِلاَّ فِي إِمَامٍ فَصَلاَحُ الِإمَامِ صَلاَحُ الْبِلاَدِ وَالْعِبَادِ

“Kalau seandainya aku memiliki sebuah doa yang mustajab (dikabulkan) maka aku akan mendoakan untuk kebaikan Imam (pemimpin) karena baiknya imam merupakan kebaikan bagi negeri dan masyarakat” (Siyar A’lam An-Nubala 8/434)

بَلَغَنِي أَنَّ الْعُلَمَاءَ فِيْمَا مَضَى كَانُوْا إِذَا تَعَلَّمُوا عَمِلُوا وَإِذَا عَمِلُوا شُغِلُوا وَإِذَا شُغِلُوا فُقِدُوا وَإِذَا فُقِدُوا طُلِبُوا فَإِذَا طُلِبُوا هَرَبُوا
“Telah sampai berita kepadaku bahwasanya para ulama dahulu jika mereka menuntut ilmu maka mereka mengamalkannya, dan jika mereka beramal maka mereka menjadi sibuk (beramal), dan jika mereka sibuk maka mereka tidak nampak, dan jika mereka tidak nampak maka merekapun dicari-cari, dan jika mereka dicari-cari maka merekapun lari menghindar” (Siyar A’lam An-Nubala 8/439-440)

يَا مِسْكِيْنُ أَنْتَ مُسِيءٌ وَتَرَى أَنَّكَ مُحْسِنٌ وَأَنْتَ جَاهِلٌ وَتَرَى أَنَّكَ عَالِمٌ وَتَبْخَلُ وَتَرَى أَنَّكَ كَرِيْمٌ وَأَحْمَقَ وَتَرَى أَنَّكَ عَاقِلٌ أَجَلُكَ قَصِيْرٌ وَأَمَلُكَ طَوِيْلٌ

“Wahai sungguh kasihan engkau, engkau adalah orang yang buruk namun engkau merasa bahwa engkau adalah orang yang baik, engkau bodoh namun engkau merasa seorang alim, engkau pelit namun engkau merasa dermawan, engkau dungu namun engkau merasa cerdas. Sesungguhnya ajalmu pendek sementara angan-anganmu panjang” (Siyar A’lam An-Nubala 8/ 440).

Al-Imam Adz-Dzahabi mengomentari perkataan Fudhail ini dengan berkata :

إِيْ وَاللهِ صَدَقَ وَأَنْتَ ظَالِمٌ وَتَرَى أَنَّكَ مَظْلُوْمٌ وَآكِلٌ لِلْحَرَامِ وَتَرَى أَنَّكَ مُتَوَرِّعٌ وَفَاسِقٌ وَتَعْتَقِدُ أَنَّكَ عَدْلٌ وَطَالِبُ الْعِلْمِ لِلدُّنْيَا وَتَرَى أَنَّكَ تَطْلُبُهُ لله

“Demi Allah, sungguh benar perkataan Fudhail. Engkau orang yang zalim namun engkau merasa bahwa engkaulah yang terdzalimi, engkau memakan hasil haram namun engkau merasa engkau adalah orang yang wara’, engkau seorang yang fasik namun engkau meyakini bahwa dirimu adalah orang yang bertakwa, engkau menuntut ilmu karena mencari dunia namun engkau merasa bahwa engkau menuntut ilmu karena Allah.”

Demikianlah beberapa kata hikmah Fudhail yang menggugah. Rasa takut dan sedih akan siksa Allah membuat hatinya selalu dekat kepada-Nya.

Dari Sufyan bin ‘Uyainah, dia berkata, “Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih takut kepada Allah daripada Fudhail dan ayahnya.”

Dari Muhammad bin Thufail, dia berkata, “Aku mendengar Fudhail bin Iyadh berkata, “Sedih (karena Allah) di dunia menghilangkan keresahan di akhirat dan (terlalu) gembira di dunia menghilangkan manisnya beribadah.”

Perkataan Fudhail menunjukkan kebeningan hatinya. Dari ilmunya ia mampu merealisasikan mutiara-mutiara hikmah yang sarat dengan keagungan iman, dan penghambaan yang tulus kepada Rabb, Allah SWT.

Kehidupan Fudhail laksana cermin yang tak jauh beda dari apa yang ia katakan. Sosok teladan dan inspirator dalam membangun jati diri membentuk karakter Islami sebagai seorang mukmin sejati.

Adz-Dzahabi berkata, “Ditanyakan kepada Fudhail bin Iyadh: “Apakah zuhud itu?” . Dia menjawab, “Banyak qona’ah,” lalu ditanyakan, “Apakah wara’ itu?” Fudhail menjawab, “Menjauh dari sesuatu yang dilarang Syari’at,” Dan ketika ditanyakan, “Apakah ibadah itu?” maka Fudhail menjawab, “Melaksanakan sesuatu yang diwajibkan,” Lalu ditanyakan pula, “Apa itu tawadhu‘?” Fudhail menjawab, “Anda tunduk kepada Yang Haq. Dan ketahuilah sesungguhnya Wara’ terberat itu terletak pada lisan.”

Salah satu sifat menonjol beliau adalah sangat peduli dan perhatian terhadap murid-muridnya. Suatu ketika ia mendatangi salah satu muridnya yang tengah sakaratul maut. Beliau membimbingnya untuk bersyahadat tetapi lisannya tak mampu mengucapkan syahadat.

Beliau mengulang-ulangi bacaan syahadat, namun muridnya mengatakan, “Saya tidak dapat mengucapkannya,” hingga Fudhail berlepas diri darinya.

Beliau pun menangis setelah kematian sang murid. Beliau bermimpi dalam tidurnya ternyata murid tersebut setiap tahun meminum segelas arak agar sembuh dari penyakitnya. Wallahu a’lam bish shawab. (Aza/ muslimah.co.id dan berbagai sumber)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here