Studi Sejarah: Kota Yerusalem Didirikan oleh Muslim, Bukan Yahudi atau Nasrani

Pemandangan Kota Baitul Maqdis yang di dalambta ada Masjid Al Aqsha (IG al_quds)

Indonesiainside.id, Amman – Sebuah makalah terkait sejarah timur tengah mengungkap bahwa orang-orang Arab adalah penghuni pertama Kota Yerusalem (Baitul Maqdis), dan tinggal di sana selama setidaknya 5.000 tahun. Temuan ini diterbitkan oleh lembaga penelitian yang berbasis di Amman, Jordania.

“Mereka mendirikan dan membangun Kota Yerusalem di tempat pertama, dan ada di sana sejak itu,” menurut makalah tersebut, yang dilansir Arab News.

Dengan mengutip dokumen-dokumen sejarah yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya, makalah  dari Institut Royal Aal Al-Bayt untuk Pemikiran Islam ini, berupaya untuk memperbaiki kesalahan persepsi bahwa orang Arab adalah pendatang baru di Yerusalem.  Lembaga tersebut, sebuah entitas non-pemerintah Islam, yang dipimpin oleh Pangeran Ghazi bin Muhammad, utusan pribadi dan penasihat khusus untuk Raja Abdullah II dari Yordania, sejak tahun 2000.

Di antara banyak referensi yang digunakan, untuk menegaskan temuan itu, adalah Korespondensi Amarna, serangkaian surat diplomatik antara raja-raja kota-negara Kanaan dan penguasa Mesir selama abad ke-14 SM, yang menyebut Yerusalem. Makalah ini menyajikan gambar-gambar tablet runcing yang ditemukan di Mesir pada akhir abad ke-19 untuk memvalidasi argumennya.

Bersamaan dengan penemuan arkeologis itu, catatan Alkitab juga digunakan sebagai sumber untuk membangun kehadiran Arab asli di Yerusalem. Alkitab, menunjukkan bahwa orang Arab, Hamite, Kanaan, dan Yebus adalah penduduk asli tanah Palestina, termasuk wilayah Yerusalem. Orang Kanaan dan Yebus ada di sana jauh sebelum orang Yahudi, bahkan sebelum Yudaisme terungkap.

Dokumen setebal 108 halaman ini mengutip bagian-bagian dari Perjanjian Lama untuk menetapkan bahwa Yerusalem selalu menjadi kota Arab, dan mencatat bahwa orang-orang Arab Palestina saat ini sebagian besar merupakan keturunan langsung dari orang-orang Arab Kanaan asli yang ada di sana sejak lebih dari 5.000 tahun yang lalu. Keluarga Arab Muslim dan Kristen Palestina modern (seperti suku Kanaan, keturunan langsung orang Kanaan) adalah penduduk tertua di negeri itu.

Makalah ini menyebutkan bahwa Salahuddin Al-Ayyubi, tokoh sejarah Muslim yang ditakuti dalam Perang Salib dan merebut kembali Yerusalem pada abad ke-12. Salahuddin  membiarkan orang-orang Kristen untuk tetap tinggal dan mengundang orang-orang Yahudi yang diusir dari Yerusalem oleh Tentara Salib untuk bermukim kembali di kota.

Menurut Prof Sari Nusseibeh, mantan Presiden Universitas Al-Quds di Yerusalem, makalah tersebut adalah dokumen yang dirujuk dengan baik dan dengan jelas diperdebatkan. Keluarga Nusseibeh, sejak abad ketujuh, dipercayakan dengan kunci-kunci Gereja bersejarah, dan Makam Suci (terletak di kawasan Kristen Kota Tua Yerusalem).

Menurut Nusseibeh, makalah itu mengingkari narasi Israel dan ekstremis Yahudi dalam lebih dari satu cara, dan menggantikannya dengan tinjauan sejarah yang jelas tentang kelanjutan kehadiran Arab di kota itu, serta pemerintahan Islam yang baik hati.

Nusseibeh, salah satu pemimpin intifada Palestina pertama, mengatakan bahwa dokumen itu mengakui peran Palestina dalam Dinasti Hasyimiyah. Dengan demikian temuan ini membuktikan hubungan politik khusus antara orang-orang Palestina dan Kerajaan Hasyimiyah (di Jordania). Ini menunjukkan bahwa hak asuh Jordania atas situs-situs suci, terutama dalam konteks perdamaian, menjanjikan tempat yang lebih aman untuk ketiga agama, daripada kebijakan Israelisasi Yerusalem saat ini.”

Makalah itu juga menegaskan bahwa ketika Muslim menguasai Yerusalem, pada 638, 1187, dan 1948, mereka tidak pernah mengusir orang Kristen dan Yahudi. Sebaliknya, pemimpin Muslim menjamin hak-hak mereka, dan hak-hak agama, dan bahkan menyambut orang Yahudi ke kota itu. Ini menunjukkan, berbeda dengan pengusiran Kristen terhadap Yahudi pada 630, dan pembantaian mereka terhadap Yahudi dan Muslim pada 1099.

Atau juga, tidak seperti pembantaian Yahudi atas penduduk asli Yerusalem pada 1.000 SM, pengusiran orang Kristen Sasanian pada tahun 614, dan bahkan pengusiran orang-orang Palestina pada tahun 1948. Dengan kata lain, temyan ini bertentangan dengan persepsi keliru bahwa Islam tidak memiliki hak moral untuk Yerusalem, Islam secara historis lebih damai dan toleran terhadap agama lain daripada Yudaisme atau Kristen.

Vera Baboun, seorang anggota Dewan Nasional Palestina dan mantan Walikota Bethlehem, mengatakan bahwa makalah tersebut mengartikulasikan realitas historis yang beragam dari narasi eksklusif. Temuan juga membuktikan bahwa Israel mengadopsi penolakan hak-hak budaya, manusia, sejarah dan agama dari Orang-orang Palestina Arab apakah kita Kristen atau Muslim.

“Hal ini menempatkan para pembaca berhadapan muka dengan kesalahpahaman mereka sendiri dan kurangnya pengetahuan, sehingga menghilangkan prasangka politik atau Alkitab Israel eksklusif yang digunakan untuk meniadakan hak dan keberadaan hak-hak Palestina di Yerusalem atau tanah Palestina pada umumnya,” kata baboun.

Untuk menangkal anggapan yang berlaku seolah Yerusalem tidak disebutkan dalam Al-Qur’an Suci, makalah tersebut menyatakan bahwa selama lebih dari 1.300 tahun, adalah biasa bagi para jamaah Muslim untuk mengunjungi Yerusalem setelah mereka menyelesaikan ibadah haji ke Makkah dan Madinah. (NE)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here