Survei BKKBN: 97,7 Persen Suami-Istri Saling Menguatkan, 50 Persen Keluarga Terpaksa Jual Perhiasan

Mohammed Al-Nahdi (kanan), bersama istrinya, Reca (kiri ) menyiapkan makanan untuk berbuka puasa di rumahnya di Ezzahrouni , Tunis, Tunisia, Jum'at (1/5/2020). Agensi Anadolu/Yassine Gaidi

Indonesiainside.id, Jakarta – Pandemi Covid-19 ternyata menjadi momen bagi banyak keluarga untuk memperbaiki kualitas komunikasi khususnya bagi pasangan suami-istri. Survei membuktikan, sebanyak 97,7 persen pasangan suami-istri saling menguatkan saat pandemi Covid-19 melanda Tanah Air.

Meski begitu, masih ada potensi disharmoni atau percekcokan di antara pasangan suami-istri akibat persoalan rumah tangga selama masa pandemi Covid-19. Namun, pasangan suami istri yang cekcok hanya terekam sebanyak 2,5 persen. Lebih besar kelompok keluarga yang terpaksa menjual barang atau perhiasan akibat keterpurukan ekonomi.

Hasil survei itu dilansir Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) secara virtual atau wawancara virtual. Sebanyak 50 persen data sampel dikumpulkan dari Pulau Jawa, 35 persen dari Sumatera, dan sisanya dari berbagai wilayah Tanah Air.

“Kami mewawancarai secara virtual dan terkumpul sampelnya 20.400 yang secara proporsional terdistribusi dengan baik,” kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (10/7).

Dia mengakui memang ada sebagian keluarga yang memiliki potensi pertengkaran atau disharmoni hingga kekerasan dalam rumah tangga selama pandemi Covid-19. Jumlahnya ada sekitar 2,5 persen dari hasil survei BKKBN. Hal itu juga disebabkan karena pasangan merasa stres sehingga terjadi keributan.

Perekonomian keluarga memang menjadi ancaman bagi ketahanan rumah tangga. BKKBN mewaspadai adanya kelompok masyarakat dalam hal ini keluarga yang sudah terlanjur berutang sebelum pandemi Covid-19 di Tanah Air terjadi yakni sebesar 19,8 persen.

Kondisi tersebut, ujar Wardoyo, harus diwaspadai sebab berpotensi menimbulkan disharmoni dalam keluarga akibat pandemi Covid-19. Kemudian, BKKBN juga mencatat sebanyak 50,08 persen keluarga yang terpaksa menjual barang perhiasan karena desakan ekonomi.

“Ini kelompok keluarga yang sudah menjual barang-barang perhiasan dan yang ada di dalam rumah tangga,” katanya.

Secara umum, BKKBN menyimpulkan beragam masalah dalam rumah tangga selama pandemi Covid-19 tersebut dapat memicu disharmoni dalam rumah tangga bahkan bisa berujung pada kekerasan. Terakhir, ia mengimbau seluruh masyarakat agar lebih bisa memahami masing-masing pasangan di tengah situasi pandemi. Sebab, jika tidak dapat merusak tatanan rumah tangga yang telah dibangun. (Aza/Ant)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here