Aktivis HAM Desak Penyelidikan atas Pengambilan Paksa Organ Tubuh Ribuan Muslim Uighur oleh Petinggi China

uighur women
Warga Etnis Muslim Uighur. Foto: Istimewa

Indonesiainside.id, Beijing – Aktivis hak asasi manusia (HAM) dan para pemimpin internasional sedang mengumpulkan bukti bahwa komunitas Muslim Uighur yang terkepung di provinsi Xinjiang, menjadi korban dari perdagangan organ tubuh Partai Komunis China (PKC).  Selama beberapa dekade, Partai Komunis Tiongkok sangat bergantung pada tahanan yang dieksekusi untuk mendukung perdagangan transplantasi organnya. Kemudian muncul dugaan bahwa para pemimpin pemerintah mengandalkan minoritas teraniaya untuk meningkatkan persediaan mereka.

Awal bulan ini, dua organisasi aktivis Uighur, Gerakan Kebangkitan Nasional Turkistan Timur dan Pemerintah Turkistan Timur di Pengasingan, mendesak penyelidikan dan mengajukan pengaduan ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) terhadap kepemimpinan Beijing. Mereka menuduh bahwa petinggi China melakukan genosida dan kejahatan kemanusiaan terhadap Muslim Uighur, dalah hal ini mencuri organ-organ tubuh mereka untuk diperdagangkan.

Langkah ini diambil menyusul laporan yang memberatkan yang diselesaikan awal tahun ini, oleh China Tribunal yang bermarkas di London, diketuai oleh Sir Geoffrey Nice QC, Jaksa Penuntut Pengadilan Kriminal Internasional, yang sebelumnya bertanggung jawab untuk memastikan bahwa pemimpin Serbia Slobodan Milošević didakwa Pengadilan Kriminal Internasional untuk bekas Yugoslavia (ICTY) dengan kejahatan perang.

Pengadilan memutuskan dengan kepastian tanpa keraguan, bahwa di Tiongkok, pengambilan organ secara paksa dari tahanan, dipraktikkan selama periode waktu yang substansial. Sebagian besar korban dikatakan dari Falun Gong, minoritas agama dan etnis yang berpusat pada agama Budha, namun kini ada kekhawatiran yang berkembang bahwa Muslim Uighur menjadi target yang lebih besar.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here