Dulu dan Sekarang, Pergeseran Peran Pemandu Jamaah Calon Haji di Makkah (Bagian 2/habis)

Indonesiainside.id, Makkah – Di masa lalu, ikatan antara para pemandu dengan jamaah calon haji, benar-benar terjalin dengan penuh keakraban dan kekeluargaan. Pemandu haji pria dan wanita menemukan kenyamanan dan kesenangan dalam melayani jamaah, dan menganggap pelayanan mereka adalah suatu kehormatan.

Sami Al-Muabber, Kepala Lingkungan Russeifa di Makkah, mengingat kembali hubungan yang berkembang antara pemandu dan jamaah calon haji di tahun-tahun silam. Mulai dari kedatangan jamaah di kapal, sampai keberangkatan mereka setelah menghabiskan waktu enam atau tujuh bulan di Makkah.

Al-Muabber juga mengungkapkan peran penting yang dimainkan oleh para wanita Makkah, bahkan bertahun-tahun yang lalu, yang berusaha keras untuk memberikan keramahan kelas satu, dari menyiapkan makanan lezat, hingga memberikan layanan menjahit pakaian.

Dia mengatakan bahwa jamaah di masa lalu akan menghabiskan lebih banyak waktu di Makkah dan Madinah daripada di negara asal mereka. Sebagai hasilnya, mereka belajar bahasa Arab dan mengajar orang lain bahasa asli mereka. Ini memiliki dampak sosial pada cara hidup orang Makkah, yang memperlakukan para jamaah sebagai bagian dari keluarga mereka, dan mitra penting dalam kehidupan sosial kota.

“Para jamaah biasanya tiba di awal bulan Rajab dengan “Babur” (kapal), dan tinggal sampai Safar, tujuh bulan kemudian, yang memberi banyak waktu bagi mereka untuk berintegrasi dengan orang Makkah. Peziarah tinggal di rumah pemandu mereka. Pemiliknya akan mengosongkan sebagian besar rumah, hanya menyisakan kamar di atap untuk dirinya dan keluarganya, dengan ruang di depannya,” kata Al-Muabber.

Menurut Al-Muabber, kegembiraan kedatangan para jamaah sama dengan perayaan Idul Fitri. Sebuah pesta besar penuh keramahtamahan, diadakan untuk para jamaah, yang mengundang semua orang di lingkungan itu. Dia menambahkan bahwa orang Makkah akan saling bersaing untuk menawarkan keramahan kepada para jamaah, yang akan tinggal, makan, dan minum sebagai tamu Tuhan.

Wanita Makkah juga berbagi tugas yang sama dengan pemandu pria. Karena mereka menemani jamaah perempuan ke toko-toko tekstil, dan membeli apa yang mereka butuhkan, bahkan menjahitkan pakaian mereka. Perempuan Mekah biasa membantu para jamaah perempuan memilih pakaian dan sajadah mereka. Begitulah kedekatan hubungan yang berkembang selama berbulan-bulan antara jamaah dan pemandu.

Saat ini, tingginya jumlah jamaah membuat mereka tidak mengenal orang Makkah dengan cara yang begitu mendalam dan bermakna. Beberapa jamaah sekarang tiba pada Hari Arafah dan pergi segera setelah itu. Mereka tidak lagi memiliki kesempatan untuk berbagi dengan orang-orang Makkah keindahan pertemuan dan saling mengenal, atau menciptakan kenangan bersama yang akan bertahan seumur hidup.

Al-Muabber menunjukkan bahwa pada awal pemerintahan Raja Saud, jumlah jamaah adalah sekitar 200.000, sedangkan sekarang ada lebih dari dua juta setiap tahun, dan mereka menghabiskan lebih sedikit waktu di Arab Saudi.

Dengan perubahan besar seperti itu, hari-hari di mana para jamaah dan penduduk setempat dapat bertemu, menghabiskan waktu bersama dan membentuk ikatan mendalam yang berlangsung seumur hidup sudah lama berlalu.

Lady Evelyn Cobbold, seorang mualaf yang pada 1933 menjadi wanita Muslim Inggris pertama yang melakukan haji, menjelaskan dalam bukunya “Ziarah ke Meakkah” terkait pengalamannya dengan pemandu haji.

“Waktu tidak akan menghapus dari ingatan saya hal-hal yang saya lihat di Makkah dan Madinah, dan kekuatan iman, keindahan kesetiaan, dan cinta akan kebaikan, baik untuk orang maupun musuh, yang saya rasakan di Tanah Suci,” Cobbold menulis.

Sementara itu, profesi memandu dan membimbing para jamaah calon haji ini tidak hanya di jalani oleh warga Makkah pada umumya. Sejumlah tokoh terkemuka Arab Saudi juga menekuni profesi ini selama bertahun-tahun.

Ahmed Halabi, seorang jurnalis yang berspesialisasi dalam layanan haji, mengatakan bahwa bimbingan ibadah haji dikaitkan sejak awal 683 H atau 1284 M, untuk menyediakan layanan khusus bagi para jamaah di rumah suci Allah SWT.

“Kami menemukan banyak pemandu yang mewarisi profesi dari ayah dan kakek mereka, dan bangga akan hal itu karena profesi itu hanya terbatas pada para hakim dan cendekiawan pada awalnya,” kata Halabi.

Menurut Halabi, di era modern juga banyak tokoh terkemuka yang ikut mendedikasikan diri untuk memandu jamaah. “Mungkin yang paling menonjol dari mereka adalah Dr Hamid Al-Harsani, yang memegang posisi Menteri Kesehatan selama periode 1961 hingga 1962. Dia bukan hanya pemandu, tetapi pemimpin para pemandu.

Ada juga mendiang Syekh Saleh Kamel. Keluarganya bekerja dalam bimbingan dan ayahnya bekerja di Kantor Kabinet, tetapi dia ingin selalu hadir setiap musim haji untuk melayani para jamaah yang datang dari Afrika. (SD)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here