New York Times Kupas Pengobatan Covid-19 di Indonesia dari Kalung hingga Perdukunan

Petugas medis mengambil sampel spesimen saat swab test secara drive thru di halaman Laboratorium Kesehataan Daerah (LABKESDA) Kota Tangerang, Banten, Senin (6/4/2020). Foto: Antara/Fauzan

Indonesiainside.id, Jakarta – Penanganan pandemi virus corona di Indonesia menjadi sorotan dunia. Dengan tidak adanya pesan terpadu secara nasional dari pemerintah pusat, pejabat lokal dan para oportunis mencoba mengisi kesenjangan dengan informasi salah dan berbagai alternatif pengobatan tanpa pembuktian medis.

Pertama, New York Times menulis, Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo mempromosikan kalung dari ramuan minyak kayu putih untuk menyembuhkan virus corona. Tidak mau kalah, Gubernur Bali, mempromosikan obat Covid-nya sendiri, yakni menghirup uap dari arak yang direbus.

Sejumlah influencer dan pakar gadungan juga mendorong penyembuhan ala perdukunan, tulis New York Times. Para dukun atau ahli gadungan ini menyebarkan informasi menyesatkan lewat media sosial. Bahkan, tersebar rumor bahwa penggunaan thermogun dapat menyebabkan kerusakan otak.

New York Times menilai Indonesia terus terpuruk akibat pandemi. Pemerintah kesulitan untuk menyampaikan pesan berbasis ilmu pengetahuan yang konsisten tentang virus corona, dan penyakit yang ditimbulkannya, Covid-19.

Hingga Ahad (2/8), Indonesia melaporkan sebanyak 111.455 kasus positif Covid-19, 68.975 pasien sembuh dan 5.236 orang meninggal dunia. Jumlah tersebut jauh melampaui China. Catatan ini juga menempatkan Indonesia di urutan kelima dengan jumlah kematian terbanyak di Asia, dan urutan kesembilan di Asia untuk jumlah kasus infeksi tertinggi.

Dengan banyaknya informasi yang tidak jelas beredar, menyebabkan masyarakat semakin abai dan cenderung untuk tidak mematuhi aturan-aturan pencegahan penyebaran virus. Bahkan di provinsi-provinsi yang paling terdampak, sebanyak 70 persen orang ke luar rumah tanpa masker, mengabaikan jarak sosial, sering berkerumun di toko-toko dan pasar, serta nongkrong di kafe dan restoran yang sibuk.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here