Hak Hidup dan Hak Sehat Anak Wajib Diperhatikan, KPAI: Kenapa Zona Kuning Diizinkan Buka Sekolah?

Ilustrasi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Rencana pemerintah mengizinkan pembukaan sekoilah bagi pelajar di tengah masa pandemi saat ini masih menuai kontroversi. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mempertanyakan, kenapa pemerintah mengizinkan daerah berstatus zona kuning untuk membuka sekolah tatap muka langsung?

KPAI menyayangkan keputusan pemerintah karena mengizinkan pembelajaran tatap muka di zona kuning atau wilayah yang berisiko rendah terkena dampak Covid-19. Padahal, daerah zona kuning masih berisiko bagi anak-anak terpapar Covid-19.

“Jika melihat data Satgas (Satuan Tugas) Covid-19 berarti total yang diizinkan membuka sekolah mencapai 249 kota/kabupaten atau 43 persen jumlah peserta didik,” kata komisioner Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti di Jakarta, Jumat (7/8).

Dia menyampaikan, pandangan KPAI bahwa hak hidup dan hak sehat bagi anak-anak lebih utama di masa pandemi saat ini. Terlebih, dr Yogi, dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam rapat koordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), beberapa waktu lalu, menyampaikan bahwa anak-anak yang terinfeksi Covid-19 ada yang mengalami kerusakan pada paru-paru.

Anak-anak yang telah terinfeksi juga berpotensi menularkan Covid-19 kepada nenek atau kakek mereka, dengan kematian yang berpotensi akan meningkat terus dan penularan terus berjalan. Selain itu, sekolah juga harus memenuhi semua daftar periksa dan menyiapkan pembelajaran tatap muka, serta orang tua murid setuju dengan pembelajaran tatap muka.

SKB empat  Menteri, kata Retno, seharusnya dievaluasi terlebih dahulu sehingga dapat dilakukan perbaikan-perbaikan pada pengalaman atau praktik di sekolah-sekolah atau daerah-daerah yang membuka sekolah di zona hijau. Proses tersebut tidak pernah disampaikan kepada publik.

Padahal, dari hasil pengawasan KPAI di 15 sekolah pada wilayah Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta, menunjukkan hasil bahwa hanya satu sekolah yang siap dan memenuhi daftar periksa, yaitu SMKN 11 Kota Bandung.

Kemudian, pada Agustus 2020 ini, KPAI juga akan melanjutkan pengawasan langsung ke berbagai sekolah di Serang, Subang, Kota Bekasi, Kota Bogor, Brebes, Bengkulu, Lombok, dan lain-lain. Retno mengatakan, belajar dari pembukaan sekolah di zona hijau, seperti di Pariaman, Sumatera Barat, ternyata ada satu guru dan satu operator sekolah yang terinfeksi Covid-19. Padahal proses pembelajaran tatap muka sudah berlangsung satu pekan. (Aza/Ant)

Begitu juga Kota Tegal yang berada di zona hijau. Ketika membuka sekolah ternyata ada satu siswa yang terinfeksi Covid-19. Padahal siswa tersebut sudah masuk sekolah selama dua pekan. Ketika ada kasus terinfeksi, seharusnya pemerintah daerah melakukan tes PCR kepada seluruh siswa dan guru yang terlibat dalam pembelajaran tersebut.

“Artinya, kalau ada satu siswa terinfeksi, maka 30 siswa lain harus dites. Kalau belum terbukti terinfeksi Covid-19, maka biaya tes tidak ditanggung pemerintah pusat. Jadi, kalau pas buka sekolah dan ternyata ada kasus Covid-19, siapakah yang akan menanggung biaya tes untuk 30 anak dan guru di klaster tersebut?” ujar Retno.

Demikian juga dengan zona hijau di Bengkulu yang membuka sekolah pada 20 Juli 2020, tetapi dua pekan berikutnya wilayah tersebut berubah menjadi zona merah karena ada tenaga kesehatan di salah satu puskesmas terinfeksi Covid-19.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here