Kemenangan Nasionalis Hindu, Tahun Penuh Kesengsaraan bagi Warga Kashmir (bagian 1)

Bagian luar Masjid Jami' yang ditutup pada hari Jumat pertama pada hari ke 7 Ramadhan di Srinagar, Kashmir (1/5/2020). Agensi Anadolu/Faisal Khan

Indonesiainside.id, Kashmir –Pada 5 Agustus 2019, tepat setahun pemerintah India mencabut otonomi khusus dan mencaplok Kashmir. India mengklaim bahwa langkah mengintegrasikan wilayah mayoritas Muslim ke India itu dimaksudkan untuk membawa ‘pembangunan’ dan ‘mengakhiri kekerasan’.

Namun kenyataan di lapangan, selama enam bulan terakhir, wilayah Himalaya menghadapi pemadaman internet dan penguncian yang merugikan hampir delapan juta orang di Lembah Kashmir. Selain itu, ribuan politisi dan aktivis dipenjara.

Ekonomi daerah hancur ketika sekolah dan perguruan tinggi ditutup, banyak dari mereka dikosongkan, dan dijadikan tempat penampungan untuk bagi puluhan ribu tentara India yang dikerahkan ke wilayah itu untuk menindas warga. Aktivis menuduh pemerintah India menggunakan undang-undang yang kejam untuk membungkam perbedaan pendapat dan melakukan pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga Kashmir.

Setahun kemudian, ada kemarahan yang nyata terhadap langkah pemerintah untuk mencabut Pasal 370 dari konstitusi yang memberi wilayah mayoritas Muslim itu ukuran otonomi khusus. Berikut kisah-kisah warga Kashmir yang hidupnya terdampak oleh keputusan sewenang-wenang pemerintah India tahun lalu, yang dilansir dari Al Jazeera.

Ayah yang malang

Masa-masa dimana jam malam diberlakukan tahun lalu, membuat layanan transportasi terhenti di Kashmir. Nazir Ahmad Sheikh, yang bekerja sebagai kondektur bus selama beberapa dekade, menjadi pengangguran karena ratusan kendaraan penumpang dilarang, dan menciptakan situasi yang mengerikan bagi keluarga yang bergantung pada industri tersebut.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here