Sejarah Perluasan Masjidil Haram dari Masa ke Masa (bagian 1)

Masjidil Haram. Foto: Arabnews.com

Sepanjang sejarah, para khalifah dan penguasa Muslim yang bertanggung jawab atas Makkah, terus berinovasi dan berusaha keras menjaga, memperluas, dan merawat Masjidil Haram sebaik-baiknya.

Masjidil Haram adalah tempat di mana umat Islam di seluruh dunia menghadapkan wajah mereka ketika memulai shalat. Tidak salah jika masjid paling agung ini menjadi perhatian para sultan, raja, pangeran, pemimpin, dan bahkan kaum Muslimin.

“Mereka memberikan semua dukungan keuangan untuk restorasi dan renovasi masjid. Sentimen keagamaan memotivasi mereka untuk mengirim sumbangan, sepanjang abad Islam berdiri, serta menyediakan pekerja dan bahan bangunan yang diperlukan untuk merawat masjid yang diberkati ini,” kata Dr Aminah Jalal, seorang profesor sejarah di Universitas Umm Al-Qura.

Di masa lalu, para pemimpin juga memerintahkan sumur digali dan pembangunan jalan-jalan beraspal untuk memudahkan perjalanan ke tempat-tempat suci bagi para jamaah. Tetapi di era Saudi, upaya mereka mencapai tingkat yang baru.

“Kontribusi para pemimpin Saudi dalam memperluas dan merawat masjid melampaui perbandingan apa pun,” ujarnya.

Berikut rangkuman perluasan Masjidil Haram dari zaman Kekhalifaan Rashidun hingga saat ini, yang dilansir dari Arab News:

Masa Khulafaur Rasyidin

Menurut laporan Presidensi Umum untuk Urusan Dua Masjid Suci, Masjidil Haram dikelilingi oleh rumah-rumah dari zaman Nabi Ibrahim hingga pemerintahan khalifah Muslim kedua, Umar ibn Al-Khattab. Umar membeli properti para tetangga, sehingga area masjid dapat diperluas. Umar juga memerintahkan pembangunan tembok setinggi hampir 2 meter di sekitar masjid.

Seiring dengan meningkatnya jumlah jamaah haji, dibutuhkan lebih banyak ruang lagi sehingga Masjidil Haram diperluas pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, Khalifah ketiga sepeninggalan Rasulullah SAW, tepatnya pada 647 Masehi.

Kemudian, jumlah jamaah yang menggunakan Masjidilh Haram terus berkembang. 38 tahun kemudian diperluas lagi oleh Khalifah Abdullah ibn Al-Zubayr. Dia juga merenovasi Ka’bah setelah sebagian strukturnya rusak.

Kekhalifahan Umayyah

Dua ekspansi lebih lanjut terjadi selama masa khalifah Umayyah kelima, Abdul Malik bin Marwan, dan putranya, Al-Walid bin Abdul Malik.

Kekhalifahan Abbasiyah

Menurut laporan Presidensi Umum, Masjidil Haram juga mengalami ekspansi selama masa Kekhalifahan Abbasiyah. Khalifah ke-20 kaum Muslimin, Abu Jaafar Al Mansur, memerintahkan sedikit perluasan ke sisi utara. Selain itu, menara di sisi timur masjid juga dibangun pada masa itu.

Proyek ekspansi terbesar pada masa itu diperintahkan sekitar 783 Masehi, oleh khalifah Abbasiyah ketiga, Muhammad Al-Mahdi, yang memperluas Masjidil Haram setelah membebaskan rumah-rumah di sekitar masjid.

Muhammad Al-Mahdi meninggal pada 785 Masehi, sebelum proyek itu selesai, sehingga putranya dan penggantinya sebagai khalifah, Musa, mengambil alih pengawasan proyek, yang meningkatkan ukuran masjid sebesar 12.512 meter persegi.

Selama 810 tahun kemudian, Masjidil Haram sebagian besar tetap tidak berubah, dengan hanya sejumlah pekerjaan restorasi yang terjadi.
Pemerintahan Utsmaniyyah (Ottoman)

Pada awal 1570-an, khalifah Utsmaniyyah, Sultan Selim Khan dan putranya, Murad Khan, mengawasi pekerjaan renovasi dan restorasi yang mencakup penggantian atap kayu yang datar di masjid dengan kubah. Mereka juga memasang kolom tambahan untuk mendukung atap, dan arcade batu ditambahkan. Ukuran masjid tumbuh menjadi 28.003 meter persegi. (Aza/Arabnews)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here