MPR Peringatkan Efek Domino Resesi

Ilustrasi aktivitas di pusat perbelanjaan yang akan ikut terpukul dampak resesi. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) memperingatkan efek domino yang mungkin terjadi bagi perekonomian Indonesia bila terjadi resesi akibat dampak dari Covid-19.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan pandemi covid-19 berikut implikasinya juga tidak hanya berdampak secara langsung terhadap kesehatan masyarakat maupun pendidikan, tetapi juga dimensi yang lain khususnya di bidang ekonomi.

Bambang mengatakan dampak ekonomi akibat virus corona sangat buruk sekali, sehingga pemulihannya akan lambat dan krisis akan memiliki dampak yang bertahan lama, serta secara tidak proporsional mempengaruhi golongan masyarakat yang paling rentan.

“Jika tidak segera diatasi, efek domino resesi akan menyebar ke berbagai sektor,” lanjut Bambang dalam sidang tahunan MPR RI jelang peringatan kemerdekaan Indonesia ke 75, Jumat.

Dia menjelaskan efek domino tersebut antara lain mulai dari macetnya kredit perbankan hingga lonjakan inflasi yang sulit dikendalikan, atau sebaliknya deflasi yang tajam karena perekonomian tidak bergerak.

“Kemudian, neraca perdagangan akan menjadi minus dan berimbas langsung pada cadangan devisa,” imbuh Bambang.

Dia melanjutkan bahwa dalam skala riilnya, dampak resesi terhadap sebuah negara adalah meningkatnya pengangguran, anjloknya pendapatan, serta meningkatnya angka kemiskinan.

Selain itu, resesi juga menyebabkan merosotnya harga aset seperti pasar saham atau properti, melebarnya angka ketimpangan, tingginya utang pemerintah bersamaan dengan penerimaan pajak yang anjlok, serta produksi yang hilang secara permanen, dan bisnis gulung tikar.

“Seperti kita ketahui bahwa pada periode Maret sampai pertengahan bulan Agustus 2020 ini menjadi fase terberat bagi perekonomian Indonesia,” ujar Bambang.

Bambang mengatakan Badan Pusat Statistik merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal kedua 2020 minus 5,32 persen secara tahunan.

Memburuknya perekonomian tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga pertumbuhan ekonomi global yang merosot tajam karena terganggunya aktivitas perekonomian akibat pandemi Covid-19.

“Bank Dunia melansir bahwa resesi sudah hampir pasti terjadi di seluruh wilayah ekonomi dunia,” ujar dia.

Bambang juga mengatakan Resesi akibat Covid-19 ini merupakan yang terburuk dalam sejarah sejak Perang Dunia II dan Dana Moneter Internasional (IMF) juga telah melansir proyeksi resesi kali ini lebih dalam daripada era Great Depression pada tahun 1930-an.

Organisasi Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) melansir proyeksi bahwa pandemi Covid-19 semakin membuat dunia terseret dalam jurang resesi terburuk di luar periode perang dalam 100 tahun.

“Oleh karena itu saatnya kita bergotong royong terus mendukung kebijakan pemerintah yang telah melakukan langkah konkrit mendorong peningkatkan ekonomi sektor riil,” imbuh Bambang.

Bambang menambahkan bahwa pimpinan dan anggota MPR memberikan dukungan kepada pemerintah untuk mensinergikan kebijakan pemulihan ekonomi dan penanganan Covid-19.

“Keputusan pemerintah membentuk Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, kami pandang sangat tepat, mengingat persoalan ekonomi dan kesehatan tidak dapat dipisahkan dengan penanganan Covid-19,” lanjut dia.

Bambang mengatakan pengalaman sejumlah negara menjadi pelajaran penting, karena tidak sedikit negara yang lebih mengutamakan penanganan kesehatan pada akhirnya menghadapi persoalan ekonomi yang kompleks, bahkan sampai terjadi resesi.

“Oleh karena itu, perlu ada keseimbangan penyelesaian persoalan kesehatan dan sekaligus perekonomian, dengan catatan bahwa kesehatan tetap menjadi prioritas karena dengan sehat, persoalan ekonomi menjadi lebih mudah penanganannya,” jelas Bambang.(EP/AA)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here