Selamatkan Maleo Demi Anak Cucu

Satwa endemik Maleo. Foto: antara

Indonesiainside.id, Palu – Sebagai satwa endemik, Burung Maleo (macrocephalon maleo) hanya hidup terbatas di Sulawesi saja, karenanya jumlah satwa itu semakin berkurang.

Populasi Burung Maleo kini semakin terancam karena sering diburu oleh masyarakat baik satwanya maupun telurnya untuk konsumsi dan juga diperdagangkan.

Belum lagi musuh alami yang memangsa telur Maleo seperti babi hutan dan biawak. Habitatnya yang khas juga mempercepat kepunahan.

Maleo hanya bisa hidup di dekat pantai berpasir panas atau di pegunungan yang memiliki sumber mata air panas atau kondisi geothermal tertentu.

Satwa yang terbilang cerdik dan pandai tersebut tidak mengerami telurnya. Setelah bertelur Maleo akan menguburkan telurnya sampai menetas sendiri. Agar dapat bertahan dan menetas, telur harus dikubur di tempat yang hangat seperti di pasir pantai atau kawasan yang dekat sumber air panas.

Seperti di kawasan hutan konservasi Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) di wilayah Desa Saluki, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi (Sulteng). Di lokasi itu, kata Kepala Balai Taman Nasional Lore Lindu, Jusman, sudah ada sistem penangkaran Burung Maleo semi alami.

Lokasi penangkaran dibangun oleh Balai Besar TNLL bekerja sama dengan kelompok masyarakat peduli satwa endemik yang ada di desa itu puluhan tahun lalu.

Telur-telur Maleo yang dipungut dari alam bebas setelah dibawa ke penangkaran, langsung ditanam di dalam lubang ukuran tertentu seperti yang biasa dipakai Maleo menetaskan telur di alam bebas.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here