Vaksin Covid-19 Rusia Dinilai Tidak Sesuai Kaidah, Benarkah Demikian?

Foto yang disediakan oleh Dana Investasi Langsung Rusia (Russian Direct Investment Fund/RDIF) ini menunjukkan seorang peneliti yang bekerja di laboratorium Institut Penelitian Ilmiah Epidemiologi dan Mikrobiologi Gamaleya di Moskow, Rusia, Kamis (6/8/2020).Xinhua/RDIF

Indonesiainside.id, Jakarta – Manajer Peneliti Biomolekular Australian National University dan Direktur Utama Lipotek Australia, Ines Atmosukarto mengatakan vaksin Covid-19 buatan Rusia tidak sesuai kaidah penelitian vaksin karena seharusnya menjalani seluruh fase uji klinis yakni fase 1, 2, dan 3.

“Vaksin tersebut baru fase 1 tiba-tiba Perdana Menteri Putin mengumumkan bahwa ini sudah akan diberikan kepada masyarakat, tentunya kalau dari segi kita sebagai peneliti dan kebetulan terlibat dalam pengembangan vaksin bahwa suatu vaksin bisa loncat dari fase 1 langsung diberikan kepada masyarakat itu menyalahi banyak kaidah penelitian terutama dalam menjaga keselamatan orang-orang yang nanti akan diberikan vaksin,” kata Ines dalam diskusi publik dalam jaringan “Covid-19 dan Prospek Vaksin untuk Indonesia” di Jakarta, Jumat(15/8) kemarin.

Menurut dia, pengembangan vaksin harus melalui uji klinis fase 1, 2, dan 3 karena untuk menjamin keamanan dan manfaat dari vaksin.

“Karena kita tahu kenapa ada uji klinis dan kenapa sampai ada tiga tahap itu sebenarnya adalah untuk melindungi masyarakat,” ujar Ines.

Keselamatan dan keamanan menjadi sangat krusial karena vaksin disuntikkan pada orang sehat untuk mencegah terinfeksi dari penyakit tertentu.

“Sangat berbahaya apabila tiba-tiba nanti karena kita semua dalam ‘race’ mencari vaksin tiba-tiba kita membiarkan atau membolehkan adanya motong jalan yang mungkin drastis,” tuturnya.

Uji klinis fase 1 dilakukan pada 20-an orang untuk mengetahui apakah ada hal-hal keselamatan yang sangat fatal yang harus diketahui lebih dahulu.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here