Bungkam Aspirasi Warga Muslim Rohingya, Janji Myanmar ke Dunia Internasional Hanya di Bibir

Dokumentasi pengungsi Rohingya berkumpul untuk memperingati dua tahun eksodus di kamp Kutupalong di Cox Bazar, Bangladesh. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Rangoon – Pemerintah Myanmar selain melakukan genosida terhadap muslim Rohingya, dalam langkah terbaru juga membungkam demokrasi dan hak-hak warga muslim di sana.

Komisi Pemilihan Umum Myanmar (UEC) minggu ini mengumumkan bahwa enam kandidat Rohingya dilarang mencalonkan diri dalam pemilihan 2020. Tindakan UEC untuk mengecualikan Rohingya telah menimbulkan risiko besar bahwa pemilu 2020 tidak akan bebas, adil, atau inklusif.

Hanya beberapa bulan sebelum pemilu 8 November 2020 dijadwalkan akan dimulai, UEC telah menegaskan bahwa orang Rohingya akan ditolak hak pilihnya.

Setelah berpartisipasi dalam banyak pemilihan umum sejak 1936, Rohingya — yang memiliki populasi sekitar 1,7 juta orang di negara bagian Rakhine dan kamp pengungsi Bangladesh — kini harus siap untuk dicabut hak pilihnya dan tidak punya suara untuk menentukan masa depan negaranya.

Enam kandidat Rohingya — termasuk Khin Khin Lwin, Kyaw Min, Aung Hla, Saw Myint, Abdul Rasheed, dan Abu Tahay — telah dilarang mencalonkan diri dalam pemilu, dengan alasan terkait asal usul kandidat tersebut yang tidak diakui mereka.

Arakan Rohingya National Organization ( ARNO) menilai sangat penting bahwa komunitas internasional memantau dengan cermat proses banding dan menekan UEC untuk membatalkan keputusan mereka dan menegaskan kembali komitmen mereka untuk proses yang benar-benar bebas, adil dan inklusif.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here