Analisis WSJ: Negara-Negara Dunia Bakal Sulit Bayar Utang Gara-Gara Pandemi Covid-19

Indonesiainside.id, Jakarta – Utang negara-negara di dunia saat ini setara saat masa Perang Dunia II, tetapi bedanya, kini membayar utang akan jauh lebih sulit, karena pengaruh populasi, teknologi, dan pertumbuhan ekonomi yang lambat akibat pandemi ini.

Pandemi Covid-19 membuat negara-negara meningkatkan pengeluaran untuk menghadapinya dan menyebabkan utang publik meroket. Angka terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan bahwa pada akhir Juli, utang negara-negara maju setara dengan 128% PDB. Pada tahun 1946, angka ini sebesar 124%.

Glenn Hubbard, Presiden Dewan Penasihat Ekonomi di masa mantan Presiden AS George W. Bush mengatakan bahwa negara-negara tidak mengkhawatirkan meningkatnya utang, tetapi hanya fokus pada pengendalian pandemi.

“Saat ini adalah perang. Bukan dengan kekuatan luar, tetapi dengan virus. Tingkat pengeluaran tidak menjadi masalah,” kata Hubbard, seperti dilansir Wall Street Journal, Senin(24/8).

Setelah Perang Dunia II, negara-negara maju mengurangi utangnya dengan cepat, sebagian karena tingkat pertumbuhan yang tinggi. Rasio utang terhadap PDB hanya sedikit di atas 50% pada tahun 1959. Namun, saat ini mungkin lebih sulit, karena faktor-faktor yang berkaitan dengan struktur populasi, teknologi, dan pertumbuhan ekonomi yang melambat secara global.

Lenyapnya pandemi akan meningkatkan optimisme masyarakat, namun yang tidak disadari adalah, kemungkinan ledakan ekonomi pasca-Perang Dunia II akan sulit terulang.

Setelah PD II, angka kelahiran meledak, menyebabkan angkatan kerja bertambah. Negara-negara juga mendapat manfaat dari elektrifikasi, pembangunan kota-kota di pinggiran dan peningkatan kualitas obat-obatan.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here