Setelah Uighur, Komunis China Kini Persekusi Komunitas Muslim di Hainan

Muslimah di Sanya, Hainan belajar di sekolah dengan pengawasan polisi. Bagi muslimah di sana, hijab merupakan budaya yang melekat sejak lama, tanpa hijab sama saja dengan tidak berbusana. Foto: Weibo/scmp

Indonesiainside.id, Jakarta – Ketika perhatian dunia makin terfokus pada perlakuan China terhadap minoritas Muslim di Xinjiang, pembatasan agama oleh Beijing menyebar ke wilayah lain di negara itu termasuk komunitas kecil Muslim yang berada ribuan kilometer di wilayah selatan.

Langkah terbaru yang mereka terapkan adalah melakukan pelarangan memakai hijab atau jilbab di sekolah dan kantor pemerintah dengan target Utsul, komunitas kecil sebanyak 10.000 orang yang berbasis di Sanya, sebuah kota di provinsi pulau Hainan, hampir 12.000 km (7.400 mil) dari Xinjiang.

SCMP memberitakan bahwa Dokumen Partai Komunis juga menunjukkan pihak berwenang akan meningkatkan pengawasan mereka terhadap penduduk di lingkungan Muslim untuk “menyelesaikan masalah” dan pembatasan yang lebih ketat pada arsitektur agama dan “khas Arab”.

Perintah pelarangan hijab telah memicu protes dari sekolah-sekolah di lingkungan Utsul awal bulan ini. Dalam gambar serta video yang beredar di media sosial Tiongkok menunjukkan sekelompok gadis mengenakan jilbab membaca buku teks di luar sekolah dasar Tianya Utsul sambil dikelilingi oleh petugas polisi.

Utsul terdiri dari komunitas yang memiliki ikatan budaya dan bahasa dengan Asia Tenggara.

“Dalam protokol resminya, tak ada etnis minoritas yang dapat mengenakan baju tradisional di halaman sekolah. Namun, bagi kami, jilbab adalah bagian tak terpisahkan dari budaya kami. Jika kami melepaskannya, kami seperti menanggalkan pakaian kami,” keluh seorang relawan komunitas Utsul yang meminta namanya tak disebutkan karena sensitifnya masalah ini.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here