35 Investor Global Prihatin karena Omnibus Law Rusak Iklim Investasi Indonesia

Masa dari Federasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSPSI) yang memadati depan gedung DPR/MPR RI dengan tuntutan menolak RUU Omnibus Law, Jakarta, Rabu (12/2). Foto: Muhammad Zubeir/Indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Jakarta – Sebanyak 35 investor global mengirim surat terbuka kepada sejumlah menteri di Indonesia yang menilai bahwa omnibus law cipta kerja yang baru saja disahkan justru bisa merusak iklim investasi di Indonesia.

Para investor tersebut antara lain Aviva Investors, ASR Asset Management, Actiam, BMO Global Asset Management, Boston Common Asset Management, Christian Super, Church Commissioners for England, dan sejumlah investor lainnya.

Dalam surat terbuka tersebut disebutkan bahwa UU Cipta Kerja dianggap berisiko melanggar standar praktik terbaik internasional yang ditujukan untuk mencegah konsekuensi berbahaya dari aktivitas bisnis, yang pada akhirnya menghalangi investor dari pasar Indonesia.

Investor global tersebut mewakili nilai investasi senilai total USD4,1 triliun menyatakan bahwa keberadaan UU Ciptaker justru merusak iklim investasi di Indonesia. Pernyataan investor global itu justru berbeda dengan argumentasi yang selama ini dibangun pemerintah bahwa UU Ciptaker dirancang untuk memudahkan investasi masuk ke Indonesia.

“Kami, para investor global yang bertanda tangan di bawah ini, menulis untuk menyatakan keprihatinan kami atas usulan deregulasi perlindungan lingkungan dalam RUU Cipta Kerja,” ujar para investor dalam surat terbukanya.

Para investor menghargai upaya pemerintah Indonesia untuk menyelaraskan peraturan dan mengatasi hambatan untuk menarik lebih banyak investasi asing langsung, namun prihatin dengan modifikasi tertentu yang dapat berpotensi merugikan dari perspektif lingkungan, sosial, dan tata kelola jika undang-undang tersebut diterapkan.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here