Liput Aksi Massa Tolak UU Cipta Kerja, Jurnalis Dianiaya hingga Dipenjara

antara
Ilustrasi demo kekerasan terhadap jurnalis. Foto: Ist

Indonesiainside.id, Jakarta – Sejumlah jurnalis mengalami kekerasan saat meliput aksi unjuk rasa penolakan Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja pada Kamis lalu.

Jurnalis dari media online Suara.com, Peter Rotti dianiaya oleh aparat berpakaian sipil serba hitam karena merekam aksi polisi mengeroyok peserta aksi di sekitar halte Transjakarta Bank Indonesia.

Peter dan rekannya, Adit Rianto, sedang menyampaikan laporan langsung peristiwa unjuk rasa melalui Youtube.

Saat Peter merekam kejadian tersebut, ia kemudian dihampiri aparat berpakaian sipil, kemudian disusul enam polisi yang belakangan diketahui sebagai anggota Brimob.

Polisi sempat meminta kamera Peter, namun dia menolak dan menjelaskan bahwa dirinya adalah jurnalis.

“Saya sudah jelaskan kalau saya wartawan, tetapi mereka (polisi) tetap merampas dan menyeret saya. Tadi saya sempat diseret dan digebukin, tangan dan pelipis saya memar,” kata Peter, dikutip dari siaran pers yang diterbitkan Suara.com.

Kamera milik Peter sempat dirampas polisi, kartu memorinya diambil, dan kamera tersebut dikembalikan kepada Peter.

Dia kini mengalami memar di bagian muka dan tangan akibat penganiayaan aparat.

Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono, mengecam aksi penganiayaan terhadap jurnalis ini.

“Saya juga mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas hal ini,” ujar Suwarjono.

Selain itu, jurnalis dari media online Merahputih.com, Ponco Sulaksono, sempat hilang saat meliput aksi unjuk rasa di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here