Normalisasi Israel Sama Dengan Menjadikan Jazirah Arab Koloni Zionis dan Amerika

Seorang bocah Palestina mengibarkan bendera menentang kolonialisme Israel. Foto: PressTV

Indonesiainside.id, Kuwait – Seorang pakar politik terkemuka Kuwait mengecam upaya sejumlah negara Arab untuk membangun hubungan diplomatik penuh dengan Israel. Dia menggambarkan normalisasi hubungan dengan rezim Tel Aviv sebagai bentuk “neokolonialisme.”

Dr. Abdullah al-Nefisi, dalam sebuah posting yang diterbitkan di halaman Twitter-nya, Selasa(13/10) mengatakan penandatanganan perjanjian normalisasi antara Israel dan negara-negara Arab akan mengubah negara-negara Arab menjadi koloni baru.

“Normalisasi hubungan dengan rezim Israel sama dengan neokolonialisme, dan akan mengubah kita menjadi koloni yang melayani kepentingan bersama Zionis dan Amerika,” tulis Nefisi dalam tweetnya dilansir PressTV.

Kuwait tampaknya tidak akan mengikuti jejak GCC dalam menormalisasi hubungan dengan rezim Israel.

Pada tanggal 4 Oktober, emir baru Kuwait Sheikh Nawaf al-Ahmad al-Jaber Al Sabah menegaskan kembali dukungan teguh kerajaannya untuk bangsa Palestina dan perjuangan mereka untuk pembebasan tanah yang diduduki oleh rezim Israel.

Selama pertemuan dengan Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh yang berkunjung, Sheikh Nawaf mengatakan Kuwait akan terus mengikuti jejak almarhum Emir Sheikh Sabah al-Ahmad al-Jaber Al Sabah, dan akan menawarkan dukungan yang solid kepada Palestina dan rakyatnya.

Hampir selusin faksi politik Kuwait telah menolak klaim Trump bahwa negara tersebut siap untuk menormalisasi hubungan dengan rezim Israel.

Sebelumnya, raja Kuwait berusia 83 tahun itu menekankan dalam percakapan telepon dengan kepala biro politik gerakan perlawanan Hamas Palestina, Ismail Haniyeh, pada 1 Oktober bahwa kerajaan tidak akan mengubah kebijakannya terhadap warga Palestina dan akan tetap berkomitmen pada perjuangan Palestina.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here