Gawat, Penyelenggara Ibadah Haji dan Umroh Dapat Dijerat UU Cipta Kerja

Ibadah haji di Mekah
Ibadah haji di Mekah di tengah pandemi Covid-19. Foto: antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Sejumlah asosiasi penyelenggara ibadah haji dan umrah (PIHU) mengeluhkan pidana kurungan hingga 10 tahun atau denda paling banyak Rp5 miliar dalam Undang-Undang (UU) Cipta Kerja Bab III Bagian Empat, Paragraf 14 tentang Keagamaan pasal 125 dan 126.

Hal tersebut disampaikan Anggota Badan Legislasi DPR RI, Bukhori Yusuf. Menurutnya, asosiasi beralasan karena Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) dan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU) dapat juga dikenakan sanksi administratif sekaligus oleh aparat penegak hukum, sesuai bunyi pasal 118A dan pasal 119A, sehingga sanksi yang diterima nanti pun berlapis-lapis.

“Berat sekali konsekuensinya (bagi PIHK dan PPIU) bila kedua sanksi dikenakan sekaligus, yakni denda administratif bahkan ditambah hukuman penjara maksimal 10 tahun,” kata Bukhori dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Sabtu (31/11).

Pasal 118A dan 119A UU itu mencakup sanksi administratif dari yang ringan, yaitu berupa denda administratif sampai yang paling berat, yakni pencabutan izin usaha. Selain itu, PIHU juga berkewajiban mengembalikan biaya yang sudah disetor oleh jemaah kepada PPIU atau PIHK serta kerugian bukan materiil lainnya.

Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menjelaskan bahwa pasal-pasal 118A dan 119A sesungguhnya memiliki maksud yang baik. Menurutnya, regulasi tersebut memberikan proteksi kepada jemaah dari praktik penyimpangan pihak penyelenggara ibadah haji dan umrah yang merugikan jemaah, sebagaimana pernah terjadi sebelumnya pada kasus penipuan biro haji dan umrah First Travel.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here