Brigjen Pol Prasetijo Disebut Minta Bagian Suap dari Djoko Tjandra

Bekas Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan (Kakorwas) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Bareskrim Polri Brigjen Prasetijo Utomo menjalani sidang pembacaan dakwaan di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (2/11). (Desca Lidya Natalia)

Indonesiainside.id, Jakarta – Bekas Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan (Kakorwas) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Bareskrim Polri Brigjen Pol Prasetijo Utomo disebut meminta bagian uang karena ikut membantu untuk menghilangkan nama Joko Tjandra dari Daftar Pencarian Orang (DPO) Interpol.

“Saat di perjalanan di dalam mobil, terdakwa Prasetijo Utomo melihat uang yang dibawa oleh Tommy Sumardi, kemudian mengatakan ‘banyak banget ini ji buat beliau? Buat gw mana?’ dan saat itu uang dibelah 2 oleh Prasetijo Utomo dengan mengatakan ‘ini buat gw, nah ini buat beliau sambil menunjukkan uang yang sudah dibagi 2’,” kata jaksa penuntut umum Kejaksaan Agung Zulkipli di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (2/11).

Percakapan itu terjadi pada 27 April 2020 saat rekan Joko Tjandra bernama Tommy Sumardi bersama dengan Prasetijo Utomo akan menemui Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Inspektur Jenderal Napoleon Bonaparte. “Kemudian dijawab Tommy Sumardi ‘Ya udah lo aja yang nyerahin semuanya’,” ucap jaksa Zulkipli.

Awalnya pada April 2020, Joko Tjandra selaku terpidana kasus korupsi Bank Bali yang dijatuhi hukuman pidana penjara selama 2 tahun ingin masuk ke Indonesia untuk mengajukan Peninjauan Kembali (PK) karena Joko mendapat informasi bahwa “Interpol Red Notice” atas dirinya telah dibuka Interpol Pusat di Lyon, Prancis.

Joko Tjandra diketahui masuk dalam DPO Interpol sejak 12 Februari 2015. Joko Tjandra lalu menghubungi rekan-nya Tommy Sumardi untuk mengurus kepentingan Joko masuk ke Indonesia terutama kepada pejabat di NCB Interpol Indonesia pada Divisi Hubungan Internasional Polri.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here