Rumah Sakit Diminta Dirikan Tenda Darurat Jika Terjadi Lonjakan Kasus Covid-19

Sejumlah petugas memindahkan tenda di Gudang Darurat Pencegahan Covid-19 Palang Merah Indonesia (PMI), Mampang Prapatan, Jakarta, Rabu (25/3/2020). ANTARA /Aditya Pradana Putra

Indonesiainside.id, Jakarta – Pemerintah mengeluarkan arahan strategi rekayasa perawatan pasien Covid-19 jika terjadi lonjakan di rumah sakit. Salah satunya, rumah sakit diminta mendirikan tenda darurat jika terjadi lonjakan kasus di atas 100 persen.

“Terdapat tiga strategi rekayasa perawatan berdasarkan besar lonjakan kasus yang berpeluang terjadi paska libur panjang,” ujar Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito di Kantor Presiden Jakarta, Selasa (3/11/2020).

Satgas menyarankan masyarakat yang pulang dari bepergian  segera melakukan testing (pemeriksaan) Covid-19. Hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi penularan Covid-19 pada masyarakat saat mengisi libur panjang di luar rumah atau bepergian ke luar kota.

Berikut tiga strategi rekayasa perawatan berdasarkan besar lonjakan kasus yang berpeluang terjadi paska libur panjang:

Pertama, apabila terjadi kenaikan pasien Covid-19 sebesar 20 – 50%, maka rumah sakit rujukan siap menampung kenaikan pasien tersebut. Hal ini ditunjang karena kapasitas terpakai rumah sakit rujukan, saat ini berada di tingkat 50%.

Kedua, apabila terjadi kenaikan pasien sebesar 50 – 100%, maka pemerintah akan menambah kapasitas ruang perawatan umum menjadi ruang perawatan Covid-19. Sehingga ruang rawat inap dapat bertambah kapastiasnya.

Ketiga, apabila kenaikan pasien lebih dari 100%, maka tenda darurat akan didirikan di area perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit. Selain itu pemerintah akan mendirikan rumah sakit lapangan atau darurat bekerjasama dengan BNPB dan TNI. Untuk penempatan lokasinya berada di luar rumah sakit yang dimaksud.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here