Ethiopia Terancam Perang Saudara di Tengah Pandemi

Pasukan Ethiopia. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Konflik bersenjata di Tigray, daerah pegunungan di Ethiopia bagian utara, telah memasuki minggu kedua dan sampai hari ini belum ada tanda-tanda pasukan dari kubu Barisan Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) dan tentara Ethiopia meletakkan senjata.

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berbagai lembaga kemanusiaan dunia memperingatkan kejahatan perang berpotensi terjadi dalam konflik bersenjata itu khususnya setelah Amnesty International pada 12 November 2020 mengonfirmasi laporan ratusan orang tewas tertusuk di Mai-Kadra, bagian barat daya Tigray pada tiga hari sebelumnya.

Crisis Evidence Lab, badan yang berada di bawah naungan Amnesty International, telah memeriksa dan memverifikasi sejumlah foto dan video yang menunjukkan jasad manusia tersebar di jalanan kota atau berada di atas tandu.

“Foto-foto itu baru dan hasil pelacakan citra satelit, gambar itu berasal dari Mai-Kadra, bagian barat negara bagian Tigray (14.071008, 36.564681),” tulis Amnesty lewat laman resminya. Organisasi kemanusiaan itu menambahkan sejumlah saksi menyebut sebagian besar jasad dapat ditemukan di pusat kota Mai-Kadra, dekat gedung Commercial Bank of Ethiopia, serta di sepanjang jalan menuju Kota Humera.

Amnesty International belum dapat menyimpulkan pelaku di balik pembunuhan massal tersebut. Terkait dengan itu, kantor Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) mendesak adanya penyelidikan yang independen dan akuntabel terhadap laporan tersebut.

“Jika pelakunya merupakan kubu yang terlibat dalam konflik, maka tewasnya warga sipil (di Tigray, red) dapat berujung pada kejahatan perang. Namun, prioritas pertama saat ini adalah menghentikan pertempuran dan mencegah adanya kejahatan lebih lanjut,” kata Komisioner Tinggi PBB untuk HAM, Michelle Bachelet, Jumat.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here