Diskusi: NU dan Muhammadiyah Tidak Gagal Membimbing Umat, tapi Kegagalan Orang yang Ingin Bawa Isu Liberal

Ketua Umum Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) TGB (Tuan Guru Bajang) Muhammad Zainul Majdi. (HO)

Indonesiainside.id, Jakarta – Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) Muhammad Cholil Nafis mengatakan apa yang terjadi akhir-akhir ini bukan karena kegagalan NU dan Muhammadiyah dalam membimbing umat, tetapi lebih pada kegagalan orang yang ingin membawa isu liberal.

“Liberal ini melahirkan radikalisme. Yang kita hadapi ini buah dari proses liberalisasi. Jadi, jangan sampai kita menepi menjadi radikalisme. Bagaimana memasyarakatkan moderasi Islam agar orang tidak menepi ke kanan dan ke kiri,” ujar Cholil saat webinar Moya Institute bertema “Gaduh Politisasi Agama”, Kamis (19/11).

Pembicara lain dalam diskusi itu menghadirkan juga Ketua Umum Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) TGB Muhammad Zainul Majdi, Intelektual Muhammadiyah Imam Addaruqutni, dan Direktur Moya Institute Hery Sucipto.

Pada acara tersebut, pola dakwah Habib Rizieq Syihab juga dibahas. Intinya, tidak semua tokoh setuju dengan pola dakwah Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) itu. Salah satunya diungkapkan oleh Imam Addaruqutni yang juga Sekjen Dewan Masjid Indonesia (DMI). Dia mengakui apa yang dilakukan Habib Rizieq Syihab merupakan bagian dari politisasi agama.

“Kalau Rizieq mungkin mengatakan bukan (politisasi agama). Tapi kalau kita mengatakan iya,” kata Imam.

Sementara TGB mengatakan, politisasi agama juga bisa baik kalau nilai-nilai mulia agama menjadi prinsip dalam berpolitik, sebagaimana yang dilakukan para pendiri bangsa ini.

“Maka politik menjadi hidup dan bagus karena ada nilai agama,” kata mantan Gubernur Musa Tenggara Barat itu.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here